''Rif apa yang harus aku lakukan, aku belum sanggup. Belum sanggup Rif menerima kenyataan ini'' suara Firman memecahkan keheningan di sore yang terlihat mendung, dan gerimis mulai turun dari langit yang indah. Di teras depat rumah Arif duduk Firman yang sedang membutuhkan teman curhat untuk masalahnya. Sambil ditemani dengan secangkir Kopi buatan Mak Aisyah, ibunya Arif. Selama ini Firman sering kesini menceritakan keluh kesah yang dihadapinya.
''jika kau tak sanggup mengapa kau melakukan itu Man??'' tanya Arif ''kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu atas Rina''
''tapi Rif, aku benar-benar belum siap menerima kenyataan ini, apa yang harus aku katakan pada Mak di kampung. Pasti dia kecewa Rif''
''lalu apa yang akan kau lakukan Man, apa kau akan menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya?? Apa kah kau setega itu membunuh calon anakmu sendiri?'' pernyataan Arif membuat Firman diam, karena merasa terpojok.
''maafkan aku Rif, aku khilaf aku tidak sengaja melakukannya''
''buat apa kau minta maaf padaku Man, cukup kau minta maaf pada Allah, Rina dan Mak mu di kampung''
''lalu aku harus bagaimana Rif, tolong aku'' Firman merengek dengan nada putus asa
''nikahilah Rina, cuma itu yang harus kau lakukan Man''
''aku belum siap Rif''
''lalu kapan kau akan siap, ini akibat yang harus kau tanggung Man. Karena hidup ini sebab akibat'' Firman hanya diam, pandangannya tertuju keluar menyaksikan gerimis yang menjadi hujan turun membasahi bumi. Tatapannya kosong melihat rinai-rinai hujan.
***