Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Senin, 23 Juli 2012
Selasa, 19 Juni 2012
Sepuluh Sahabat Yang Dijamin Masuk Surga
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang petama-tama (masuk
Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang
mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dengan mereka dan
mereka ridho kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
Itulah kemenangan yang agung.” (Qs At-Taubah : 100)
Berikut
ini 10 orang sahabat Rasul yang dijamin masuk surga (Asratul Kiraam).
Jumat, 13 April 2012
Menilik Gempa Menurut Ayat-Ayat Al-Quran
Memang
segala kejadian di muka bumi ini hak mutlak ketetapan Allah. Dia semata yang
mengetahuinya. Kapan dan di mana kejadian tersebut sudah Dia ketahui dan
rencanakan dengan detail. Demikian pula gempa bumi yang terjadi di Sumatera,
Rabu 11 April 2012 yang yang membuat masyarakat trauma akan tsunami, apalagi
BMKG mengatakan gempa yang terdahsyat ke tiga di Indonesia ini berpotensi
tsunami.
Gempa berkekuatan 8,9 skala richter
mengguncang wilayah pulau Sumatra. Gempa tersebut terjadi pada pukul 15.38 WIB,
dengan kedalaman 10 Km. Lokasi gempa berada di 2.31 Lintang Utara dan 92.67
Bujur Timur.
Gempa susulan terjadi berkekuatan
8,5 SR terjadi pada pukul 15.48 WIB, Rabu (11/4/2012), dengan kedalaman 10 Km.
Lokasi gempa sama seperti gempa yang pertama. Gempa susulan kembali terjadi di
Nangroe Aceh Darussalam (NAD) berkekuatan 6,5 skala richter (SR), pukul 16.28
WIB. Lokasinya di 1.21 LU, 91.27 BT atau 510 km Barat Daya Kabupaten Simeulue,
NAD.
Informasi dari Badan Meteorologi
Klimatologi dan Geofisika, Rabu (11/4/2012), gempa tersebut terjadi pukul 17.21
WIB. Lokasinya 2.94 LU, 93 BT atau 335 BaratLaut Kabupaten Simeulue, NAD.
Kedalaman 23 km. Hingga saat ini, peringatan tsunami untuk wilayah Bengkulu,
Lampung, Nangroe Aceh Darussalam, Sumatra Barat dan Sumatra Utara, belum
dicabut.
Mari kita
teliti kejadian gempa menurut Al-quran.
1. Kejadian gempa pada tanggal 11 April 2012
Dan ini dapat kita buka Al-quran surat ke 11 (Hud) : 4 yang bunyinya “kepada
Allahlah kamu kembali, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”
2. Gempa pertama terjadi pada jam 15:38
“sampai hari (suatu) waktu yang telah
ditentukan, yakni waktu tiupan pertama tanda permulaan hari kiamat”(AL HIJR)
3. Gempa ke dua yang terjadi pada jam 15:48
“Mereka tidak merasa lelah di dalamnya
dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya” (AL HIJR)
4. Gempa ke tiga terjadi pada jam 16:28
“
(yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat
zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata);
"Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatanpun".
(Malaikat menjawab): "Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang
telah kamu kerjakan". (AN NAHL )
Dan
ketika Allah akan menurunkan adzab kebinasaan kepada suatu penduduk negeri maka
diadakan di antara mereka para pemimpin yang suka hidup mewah dan kufur kepada
Allah, sehingga mereka menyeru rakyatnya kepada kekufuran, maka ketika mereka
melakukan hal itu tiba saatnya adzab turun.
Kekufuran
para pemimpin ini sudah terlalu lama, yaitu dengan menolak hukum Allah (syariat
Islam), menggantinya dengan produk hukum manusia. Contohnya demokrasi. Syariat
dikesampingkan, tradisi dan aturan hidup yang menyelisihi Islam dibudidayakan.
Akhirnya yang diharamkan oleh Islam dihalalkan, begitu juga sebaliknya. Para
mujahid dihabisi, sementara penjahat dilindungi.
Tentang
ada atau tidaknya kaitan antara ayat-ayat di atas dengan bencana tidak ada satu
dalil sharih yang menunjukkannya. Namun, semestinya bencana menjadi
pelajaran bagi kita. Introspeksi dan muhasabah terhadap kesalahan dan
kedurhakaan kepada Allah harus segera dilakukan, supaya musibah tidak terulang.
Sumber : Inilah.com, voa-islam
Kamis, 19 Januari 2012
Zakat Vs Pajak dalam perpekstif islam
Zakat dan pajak merupakan dua istilah yang berbeda namun keduanya memiliki fungsi yang sama yaitu mengambil atau memungut kekayaan dari masyarakat untuk kepentingan sosial. Dua istilah ini juga memiliki banyak perbedaan. Istilah zakat hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang beragama islam, karena zakat diatur didlam Al-Quran dan As-Sunnah. Sebagai mana firman Allah :
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (At-Taubah: 60)
Dan sabda Nabi Muhammad SAW:
diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw. mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman maka beliau bersabda, “Serulah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa aku ini Rasulullah. Kalau mereka mentaatimu untuk itu maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka lima kali shalat dalam sehari dan semalam; kalau mereka mentaatimu untuk itu maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka shadaqah (zakat) berkenaan dengan harta mereka, diambil dari golongan akaya mereka dan didistribusiokan kepada oaring-orang yang faqir diantara mereeka. (HR. BUkhari).
Selain orang-orang yang disebutkan diatas tidak berhak menerima zakat. Zakat merupakan pembeda antara yang kaya dan yang miskin yang memiliki fungsi social untuk membantu sesama. Orang-orang yang berhak membayar zakat adalah orang-orang yang memilki penghasilan lebih.
Zakat dalam islam merupakan suatu ibadah yang memiliki fungsi social dan perikemanusiaan dalam hal ekonomi antara yang kaya dan yang miskin. Zakat bisa memberantas penyakit hati seperti iri hati dan dengki dari orang-orang yang miskin yang hidup disekitar orang yeng memilki harta lebih. Zakat Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang berdiri atas prinsip-prinsip persatuan, persamaan derajat, dan tanggungjawab bersama, agar kita tidak menjadi orang yang serakah. Nilai zakat setiap tuhunnya tidak pernah berubah, dari tahun ketahun tetap memiliki nilai yang sama, tidak ditambah ataupun dikurangi.
Namun ada juga yang namanya zakat fitrah yang wajib dikeluarkan oleh setiap manusia yang beragama Islam baik itu bayi yang baru lahir sekalipun, yang lahirnya sebelum shalat Ied. Zakat fitrah hanya wajib dibayar sebelum shalat Ied Idul Fitri.
Sedangkan pajak ditetapkan oleh pemerintah dalam segala aspek kehidupan masyarakat, dan pajak diwajibkan bagi setiap masyarakatnya, baik masyarakat yang berstatus ekonomi rendah maupun masyarakat yang berstatus ekonomi tinggi. Sebagian masyarakat gerah terhadapa pajak karena terlalu diatur, contohnya saja satiap kita membeli seautu produk pasti sudah termasuk dengan pajak, makan diwarung saja dikenai pajak.
Pajak merupakan kewajiban Negara yang diatur dalam undang-undang untuk kepentingan Negara seperti fasilitas umum dan kesejahteraan rakyat. Ironisnya setiap tahun persentase pajak terus meningkat dan kehidupan masyarakat semakin miskin. Belum lagi banyak fasilitas umum yang terbengkalai, fakir miskin yang setiap tahunnya semakin meningkat. Dengan kondisi demikian, wajar apabila kesadaran pajak masyarakat Indonesia sangat rendah. Indikasinya adalah tax ratio yang hanya 13,6% dari PDB, dibawah rata-rata tax ratio negara-negara Eropa dan Amerika yaitu 33%. Karena pajak merupakan sumber utama penerimaan negara (78% APBN berasal dari pajak) tak heran jika pemerintah terus-menerus melakukan usaha memperbesar perolehan pajak. Meskipun terus meningkat, usaha tersebut belum sepenuhnya berhasil. Majalah berita Pajak edisi April 2003 menunjukkan baru 2.3 juta penduduk dari 210 juta potensi yang terdaftar sebagi obyek pajak dan dapat dilihat di http://emmyhamidiyah.blogspot.com/2008/05/zakat-vs-pajak.html). Ironisnya lagi hasil pajak hanya diperuntukkan untuk pembangunan dikota saja namun jalan-jalan menuju desa terpencil saja masih ala kadarnya. Lalu kemanakah hasil pajak?
Rabu, 30 November 2011
Tipe Akhwat (perempuan) yang Menarik
Hmmm… teman-teman pasti pernah bertemu dalah kehidupan kalian makhluk
yang biasanya dipanggil akhwat (perempuan)… Apalagi kalau akhwatnya itu
cantik, manis, baik, sifatnya ramah dan maniiiiis banget, muslimah yang
santun dan berakhlak mulia,, jikalau diibaratkan pastinya itu adalah
dambaan para ikhwan (laki-laki) yang matanya terbuka, dan menginginkan
kebahagiaan dunia dan akhirat… jikalau diungkapkan dengan kata, akhwat
ini adalah sosok pasangan hidup yang menjadikan hidup kita indah,
bahagia, teduh, sejuk,, wah pokoknya sakinah, mawadah, warohmah… hehe….
Tapi ada hal yang menarik dari mereka, yang khususnya dari
kepribadian mereka, lucunya ini sangat menonjol dari mereka satu sama
lain. Hal ini didasarkan pada pengalaman para ikhwan terhadap mereka
yang biasa bersua, berkomunikasi, bergaul dengan para akhwat t
ersebut…. yaaah bisa dibilang pengalaman pribadi, mungkin aja ini bermanfaat untuk para ikhwan pada saat ingin berkenalan dengan mereka (Ta’aruf) bagi yang sudah siap dan mencari seorang akhwat yang menjadi pasangan hidupnya kelak…
ersebut…. yaaah bisa dibilang pengalaman pribadi, mungkin aja ini bermanfaat untuk para ikhwan pada saat ingin berkenalan dengan mereka (Ta’aruf) bagi yang sudah siap dan mencari seorang akhwat yang menjadi pasangan hidupnya kelak…
Peringatan hal ini sangat menarik jadi jangan sungkan tersenyum atau tertawa yah…
Baiklah kita mulai pembahasanya :
1. Akhwat Lemper
Bicara tentang lemper nie, jadi kebayang ama makanan yang dibalut
dengan daun pisang warna ijo, terbuat dari beras ketan yang isinya
daging sapi, daging ayam, atawa abon yang sebelumnya dikukus terlebih
dahulu. Hmmm…nikmaaat..!! (Hus! Ngomong apaan sih! Gak nyambung ne!)
Heuheueuh…Sowri Prens. Lemper di sini sama sekali gak ada hubungannya
sama nama salah satu jajanan pasar favorite ane ntu. Ehem! Lemper di
sini maksudnya…Yup! Tuh dah pada tau…
”LEMbut tapi PERkasa!” Akhwat tipe ini memeliki karakter lemah lembut
layaknya seorang wanita pada umumnya, namun ia juga memiliki
keperkasaan, ketangguhan, dan kemilitanan yang gak kalah dari si ikhwan.
Dia bisa bersikap lembut, ramah, dan halus pada siapapun, tapi di sisi
lain ia juga bisa berlaku tegas, cakap dan berwibawa. Perkasa bukan
berarti ia mampu mengangkat galon air atau kardus air mineral saat jadi
panitia acara (kecuali kalo dia ada keturunan ama Mpok Supergirl ato
Mbak Xena). Namun keperkasaan itu tampak dalam ketegarannya menghadapi
musibah, ketangguhannya menghadapi masalah, kekuatannya dalam mengemban
amanah, atau kemilitanannya dalam segala kondisi di medan dakwah dan
bersegera menyambut seruan Allah.
Gak ada kata “nggak siap” untuk amanah, atau “ntar dulu deh” untuk panggilan jihad dan dakwah.
2. Akhwat Sosis
Eh, yang ini juga gak ada hubungannya sama nama makanan yah! Dan juga
gak da sangkut pautnya ma golongan anak “kiri” di kampus yang biasa
dipanggil anak sosis (paham sosisalis).
Nah, sosis yang ini beda pren, dia itu kependekan dari SOk SIbuk
Sekaleee! (heuheheh…ada-ada ja lu!). Akhwat model begini udah bisa
ditebak memiliki jam terbang yang sangat tinggi. Kayaknya, gak ada waktu
deh buat bersantai ria atau berleha-leha. Time is waktu, prinsipnya!
(ya iyyalaah…!) Makanya do’I hobi banget mondar-mandir hilir-mudik
bolak-balik riwa-riwi ke sana ke mari bak setrikaan. nggak tau ngapain
aja, namanya juga, Sok Sibuk Sekaleee!!. Gesit, lincah, aktif, energik,
begitulah sepak terjangnya.
Namun pemirsa, tipe ini juga punya kekurangan jika do’i gak bisa m’manage
waktunya dengan baik. Hal ini akan berimbas pada pekerjaan-pekerjaan
lainnya, misal: tugas-tugas kuliah yang keteteran, kamar yang
berantakan, buku-buku yang berserakan, menggunungnya cucian, atau
penampilan yang kurang mendapat perhatian. (ck..ck..ck…saking
sibuknya!).
Tapi, gak semuanya gitu koq. Ada juga yang rapi dalam segala hal. Sekali lagi, ini hanya menurut hasil pantauan sementara.
3. Akhwat Narasi
Alamaak..apa pula tu Narasi??!! (Jangan bilang kalo itu adalah salah
satu jenis karangan dalam tulisan ya va?! Mentang-mentang anak kimia,
apa hubungannya ya!)
Eit, eit…tenang Prens, bukan itu koq maksud ane. Narasi itu singkatan
dari…NARsis Amat Siiiee…!! (Haha!!! Ngasal banget seh ni orang!)
Biarin! Adapun asal-usul pengambilan tipe Narasi ini disebabkan karena
keprihatinan ane melihat kondisi akhawat sekarang yang sudah banyak
terjangkiti penyakit berbahaya ini (caela!)Ya! Penyakit ini telah
mewabah di kalangan sejumlah akhwat en jilbabers. Sasarannya adalah
akhwat yang memiliki banyak kelebihan namun tidak dibarengi dengan sikap
ketawadhu’an.
Gejalanya, yang awalnya pendiem jadi over acting, yang tadinya minder
en gak PD mendadak membangga-banggakan diri sendiri, yang mulanya
pemalu jadi malu-maluin, yang asalnya tertutup jadi buka-bukaan (eh,
nggak ding. Maksudnya senang menampakkan/memamerkan dirinya di depan
umum). Parahnya lagi, jika penyakit ini dibiarkan atau malah dirawat
hingga mencapai stadium tingkat tinggi, maka bisa berubah menjadi riya’
bin ‘ujub. Penyakit ini juga bisa menular dan menyerang siapa saja! So,
waspadalah! Waspadalah!
4. Akhwat Granat
Watch ouuut…ati-ati Pren! Jangan deket-deket, ntar meledak!Emang
napa? Dia teroris ya? Ato pelaku bom syahid? Pasti militan banget ya!
Mujahidah syahidah kan?!Eit..eit..jangan sok tau gitu deh! Jangan cepet
mengambil kesimpulan. Kan yang bikin nama ane, jadi tabayyun dulu kek ke
ane, key?!Well, ehem..ehem.. akhwat Granat itu emang berpotensi meledak
jika dia sudah mencapai titik puncak kulminasinya.Duuuh, jangan
berbelit gitu deh! Apa seh sebenarnya akhwat Granat itu?
Akhwat Granat itu….(jeng jeng jeng) akhwat yang GeeR bANgAAAT!!
Gubraks! @#$%^&*? (Kalo bikin singkatan mbok ya yang keren dikit lah
va! Kreatif boleh, tapi koq kesannya “mokso” gitu!)Yak! Perkenalkan,
inilah akhwat yang paling doyan sama yang namanya pujian en sanjungan.
Apalagi kalo yang ngasi sanjungan itu si ikhwan…Whoaaa…bisa meledak
beneran tuh kepala!Sstt…Apaaa??!! Nggak dengeeerrr..!! Ooo….ya! ya! ya!
Prens, tapi ada yang protes, katanya semua cewek itu pada dasarnya emang
suka dipuji. Udah fitrahnya begitu. Okey, ane sepakat. Manusia emang
suka dipuji. Tapi masalahnya, cara menyikapi sanjungan en pujian setiap
orang itu kan beda-beda. yang langsung GeEr trus lupa diri, bangga diri,
sombong, angkuh, daaan seterusnya. Tapi ada juga yang langsung
menyadari bahwa pujian itu gak pantas disandangkan pada dirinya. Hanya
Sang Kholiqlah yang berhak atas segala pujian itu. Lalu dia bersyukur
atas kelebihan yang Allah titipkan padanya dan beristighfar jika
kemudian sombong dkk hinggap di hatinya. Bukan malah Gede Rasa! Kalo
mendengar namanya dipuji, seketika tubuhnya terasa ringan bak balon gas,
kakinya serasa tak berpijak di bumi, yang dia rasakan hanya terbang,
melayang, membumbung ke angkasa tinggi, sambil bernyanyi..
I’m flying without wings… Duuh…Dasar Akhwat!
5. Akhwat Dopping
Menurut Kamus Ilmiah Populer yang disusun oleh Pius A. Partanto dan
M. Dahlan Al Barry, Doping adalah semua obat (ramuan, zat kimia) yang
digunakan terutama untuk meningkatkan kekuatan, kecepatan, dan daya
tahan (stamina) tubuh. (Lha trus???) Hohoho….jangan ketipu Pren, jenis
akhwat ini sama sekali gak ada hubungannya ama pengertian di atas.
Dopping (double P) yang ane maksud di sini adalah DOyan shoPPING
(hehe…kecele…!) Aduuh…ampun deh, ni akhwat sukanya belanjaaaaaaaa aja!
dari hunting buku, beli baju, jilbab baru, aksesoris, alat-alat
perawatan en kecantikan sampe ngeborong makanan ringan (camilan).
Intinya, bagi penganut paham Dopping ini, Shopping is number one (baca:
doyan).
Hati-hati ukh, hal ini bisa sangat merugikan kesehatan, terutama bagi
kesehatan kantong. Dan bila sakit ini bertambah parah, maka bisa
mengakibatkan penyakit yang paling ditakuti manusia. Apalagi kalo
bukan..(jeng..jeng..jeng)…Kanker! alias KANtong KERing (Waduh, ane
sangat prihatin sekali pada ikhwan yang mendapatkan tipe akhwat ini
karena bisa tekor tuh suami..ck.ck..). Yaah…ane gak bisa berkata apa-apa
lagi. Sepertinya udah jelas banget deh efek yang bakal ditimbulkan dari
hobby (baca: kedoyanan) yang menyesatkan ini. Ane cuma bisa berpesan,
Wahai para akhwat Dopping, insyaflah dan kembalilah ke jalan yang benar
(kalo anti gak mau dibilang “koncone” syetan coz pemboros-pemboros itu
adalah saudaranya syetan. hiiii….). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penerima Taubat…
Ayoooo donk akhwaaaattt….Hemaaaaaaaaatttt…!!!
6. Akhwat EM3
Hah? Gak salah tuh tulisannya? yang benar kan iM3 (yee….siapa yang
ngomongin kartu perdana). EM3, cara ngebacanya emang sama persis dengan
salah satu jenis kartu yang “diasuh” oleh Indosat itu. Tapi asal kalian
tahu, akhwat EM3 belum tentu pengguna kartu yang paling diminati en
digemari oleh kaum pelajar en mahasiswa tersebut. (murah gitu loch),
karena yang ane maksudkan di sini adalah….kalEM, adEM, ayEM, yang
disingkat dengan EM3 (jangan protes!).
Sesuai dengan namanya, akhwat ini emang lebih “jinak”, pendiem, en keep
silent. Mungkin dari jenis-jenis akhwat yang udah qta bahas, tipe inilah
yang paling sering qta jumpai. Doi terkesan lembut, manis, ramah, murah
senyum, kemayu, bijak, tenang, ato malah sebaliknya??? Diam-diam, tapi
menghanyutkan??? Wallaahu a’laam…Yang jelas, tipikal orang introvert
seperti ini emang sulit ditebak karena dia tidak mau mengungkapkan apa
yang dia inginkan dengan bahasa manusia pada umumnya, melainkan dengan
ilmu kebatinan (heuheuh…emang bisa??).
7. Akhwat Dentis
Udah pernah denger istilah dentist kan? Yep! dentist dalam bahasa
inggris berarti Dokter Gigi. So, akhwat Dentis adalah akhwat yang
berprofesi sebagai dokter gigi (hehe…ngawur!). Dentis (gak pake ‘T’ di
akhir kata) adalah singkatan dari DEmeN arTIS (hah? emangnya ada yah
akhwat demen artis??). Oww…jangan salah Pren, Akhwat Dentis emang paling
hobby mantengin berita-berita seputar artis en sebritis, apalagi kalo
yang diliput adalah artis kesayangannya.
Do’i paling Up To Date ama urusan artis en sebritis. Dia selalu tahu
kabar terbaru dari artis fulan en fulanah, lengkap dengan
perkembangannya dari waktu ke waktu. Perlu diketahui, kebiasaan buruk
ini akan mempengaruhi cara berpikir en apa yang diucapkannya, karena
otaknya dah dipenuhi dengan artis, yang sering jadi topik pembicaraan
gak akan jauh-jauh dari dunia artis en selebritis yang notabene
kehidupannya glamour en hedonis. Barang koleksinyapun berbau artis
idolanya. Sampe gaya-nya pun kadang ngejiplak ma stile artis
kebanggaannya (Ck..ck.. Namanya juga Demen Artis….). Wuuaaah..Gaswat
nih…!!
Bagi prenz yang menjumpai karakter akhwat macam ini, wajib untuk meluruskan dan mengingatkan saudaranya. Okey?!
8. Akhwat Tumor ato Pelor
Qta semua tahu, bahwa tumor adalah salah satu penyakit berbahaya yang
timbul akibat pertumbuhan sel-sel yang tiada terkendali dan bersifat
ganas. Sedangkan pelor yang dimaksud ini bukan amunisi lho (pelor dalam
bahasa banyumas artinya amunisi senjata. Ga tau daerah laen artinya sama
apa engga.hehehe), tapi nemPel langsung moLOr, nempel bantal maksudnya,
bahkan nempel bahu ikhwan eh salah, nempel tembok dink, juga bisa
lansung molor. Wah hebat juga makhluk kaya gini ya? Sedangkan tumor
emang ganas. Apalagi jenis tumor yang satu ini. Dia akan sangat
mengganggu aktivitas kita sehari-hari. Penderita akan sangat sulit
sekali melakukan kegiatan (rutinitas) dan mudah sekali melewatkan
hal-hal penting yang seharusnya dia lakukan. Akibatnya tugas-tugas jadi
berantakan dan terbengkalai. Karena doi tak kuasa menahan penyakit yang
dideritanya. (Separah itukah). Apa itu? Yah! Tumor, TUkang MOloR
(eits…jangan menyepelekan penyakit satu ini). Akhwat Tukang Molor bisa
tertidur pulas di mana saja dan kapan saja (bahkan tanpa kasur dan
bantal sekalipun). Di kelas saat Dosen menerangkan, di tempat kerja, di
kontrakan (apalagii…), di kajian-kajian, ketika liqo’, bahkan saat syuro
pun ni akhwat bisa sukses tertidur dengan lelapnya tanpa mengenal ruang
dan waktu.
Mudah sekali mengantuk, itu cirinya. Gak peduli dengan suasana dan
kondisi saat itu. Sebagai contoh, ane pernah menemukan tipe akhwat macam
ini di kontrakan sendiri (ops!), yang sewaktu pulang kuliah di siang
bolong (padahal di luar sana mentari sedang bersinar dengan teriknya,
puanaass banget), eh si akhwat tiba di rumah langsung tergeletak tak
berdaya, tidur pulas dengan jilbab rapi dan kaos kaki masih menempel di
kaki (ane cuma bisa geleng-geleng kepala, ternyata bukan cuma suasana
hujan yang enak dibuat bobo). Yaah..mereka memang tak mau peduli, yang
penting tidur dan bermimpi…ZZzzzzzzzzz………… (Cerita dari seorang akhwat)
9. Akhwat Cadangan
Maksudnya apa neh? *dengan emosi dan nada tinggi
Eit, tenang..tenang Pren. Kita bicarakan baik-baik duduk perkaranya. Ane
tahu para akhwat pasti gak terima kalo dibilang cadangan. Karena apa?
Konotasi cadangan tuh dari dulu emang negatif. Mau bukti? Ada istri
cadangan, lelaki cadangan (kayak lagunya T2, ops!), pemain cadangan,
pokoknya si cadangan selalu dinomorduakan alias dikebelakangkan (mana
ada sih yang mau jadi kedua? Kecuali si Astrit dengan hitsnya, Jadikan
Aku yang Kedua *iiih…sowri aja yaaaaahh). But Prenz, cadangan di sini
gak ada sangkut pautnya koq ama istilah yang tadi, karena yang dimaksud
di sini adalah….. ”Cuek Abiz nDAk ketuluNGAN” (hehe…jauh amaaaat!!).
Ya! Dialah, akhwat cadangan. Prinsipnya, cuex is the best! Karakternya
udah pasti cueks bebeks, jaim banged, en stay cool Maann. Akibat gaya
cuek abiz ndak ketulungannya ini terkadang si akhwat disebut juga dengan
model akhwat es batu. Namanya juga es, pasti dingiiiiin. Trus batu kan
berarti, keras en kaku. So, bisa dikatakan, akhwat tipe begini udah
cuek, dingin, keras, kaku lagi! (whuiih…untung gak makan orang). Model
cadangan ini banyak kita jumpai di kalangan jilbabers. Biasanya cueknya
itu ma lawan jenis (baca: ikhwan). Mungkin niatnya untuk menjaga hijab,
tapi tetep aja cuek yang ndak ketulungan di sini gak bisa ditolerir.
Misalnya, saat ada saudara seiman yang laki-laki (ikhwan) mengucapkan
salam saat bertemu di jalan, trus si akhwat menganggap angin lalu dan
pergi begitu saja tanpa menjawab salamnya (dalihnya sie, jawab dalam
hati). Ato saat si ikhwan pengen membicarakan sesuatu yang sangat
penting dan amat mendesak sekali. Nah, baru ketemu ama si akhwatnya tuh
di jalan. Trus, waktu dipanggil “ukhti..!!” Eh, si akhwat malah gak
peduli dan sengaja mempercepat langkahnya tanpa menoleh ke arah suara
yang memanggilnya (dalihnya lagi nie, takut terjadi fitnah). Yaaah..!
Emang sie, serba salah. Bahkan hal semacam ini dah menjadi fenomena yang
biasa dan sempat menjadi kontroversi di kalangan aktivis dakwah. Kan
udah ada adab-adab beriteraksi (bergaul) antar ikhwan akhwat. Bukan
berarti kita menjadi makhluk yang eksklusif dan gak peka terhadap sesama
kaan??
10. Akhwat Sufi
Akhwat Sufi? Seperti Rabi’ah Al Adawiyah kah? Subhaanallaah…
Eit..eit…entar dulu (maen asal tebak aja!). Sufi yang ini sama sekali
nggak ada hubungan kekerabatan ama para penganut aliran sufisme itu.
Gimana mau dibilang sufi (dalam arti sebenarnya), wong doi malah lebih
suka duduk berlama-lama di depan layar kaca sambil mantengin film
kesukaannya. Yap! Sufi yang ane maksud adalah “SUka FIlm”! Hmm…tiada
hari tanpa nonton film, begitu mottonya. Ni akhwat paling up to date
kalo ngobrolin soal film. Dari yang terlawas sampe yang terbaru. Dari
yang lokal (bikinan anak negeri) sampe mancanegara (box office). Dari
jalan ceritanya sampe ke artis dan aktornya. Pokoknya hapal banged dah!
(Astaghfirullaahal ‘Adziim…*sambil ngelus dada).
Kalo ni akhwat dibiarkan tumbuh subur di semesta raya ini (kerjaannya
nonton film mulu), bagaimana dengan nasib ummat?? Emang masalah ummat
bisa terselesaikan hanya dengan duduk manis di depan tivi, komputer, ato
bioskop selama berjam-jam sambil menikmati film kesukaan dan maem
cemilan??? (mari qta semua teriak lantang secara berjama’ah, “ya nggak
laaaahhhh…mimpi kali yeee….!!!”).
Berhibur sie boleh, tapi liat-liat jenis hiburannya dunk, Non! Jangan
sampe kita milih hiburan yang nggak ada manfaatnya (ato bahkan malah
ngasih mudhorot, apalagi kalo isinya maksiat, iiih…na’udzubillaah). Trus
inget-inget waktunya juga! Jangan sampe hal yang mubah membuat qta lupa
mengerjakan hal yang wajib (Jangankan yang mubah, ngelakuin yang sunnah
tapi mengorbankan yang wajib aja nggak boleh!!!). Intinya, selektif dan
proporsional-lah. Hhmm…’afwan lho ukh, bukannya ane sok ngasih
“wejangan” ato sok ngatur-ngatus kalian yang menganut aliran sufi ini,
tapi ane cuma menghimbau, menganjurkan, menyarankan, mengharapkan, dan
mengingatkan (serta mengharuskan) agar anti mau mengurangi porsi nonton
filmnya dan lebih banyak hadir ke majelis-majelis ilmu. Mau kan ukhti
sayang?? Yuuukkk ^__^
11. Akhwat Amigos
Akhwat macam apa pula ini?
Bicara soal Amigos, ane jadi teringat film masa kecil dulu. Judulnya,
Amigos. Jujur, ane termasuk fans berat film telenovela anak dari Meksiko
itu. Eh, bukan..
Karena Amigos yang ane maksud di sini tidak lain dan tidak bukan
adalah… ”AMat pedulI GOSip” Alhamdulillah sekarang dah berusaha dengan
sekuat tenaga dan sepenuh jiwa dan raga untuk meninggalkan yang namanya
gosip! Ghibah?? Iiihh…Na’udzubillaah….
Yah. Akhwat amigos emang sangat peduli gosip. Entah itu tentang siapa.
Pokoknya ngerumpi. Tapi, Alhamdulillaah, dari sekian banyak akhwat yang
ane jumpai, tipe ini jarang sekali ane temui (ato mungkin ane aja yang
gak tau?). Kebanyakan dari mereka yang memilih jalan hidup sebagai
seorang akhwat (muslimah kaffah) rela dengan senang hati meninggalkan
jauh-jauh kebiasaan buruk ini. Kalaupun diantara kita (ane dan pembaca)
masih ada yang menemukan akhwat yang berprofesi sebagai bigos (biang
gosip), maka jangan sungkan-sungkan untuk menegur dan menasehatinya
untuk kembali ke jalan yang benar (dengan cara paling ahwan tentunya).
Ayo! Yang mengaku cinta saudara, jauhi ghibah! Karena ghibah bagaikan
memakan daging saudaranya sendiri. (hiii…gak mau kaann???).
12. Akhwat Lemod
Awas! Jangan salah baca. Bukan lemot, tapi lemod! (ntar, salah-salah
ane yang diseret ke meja hijau atas tuduhan pencemaran nama baik akhwat
yang notabene gak lemot-lemot amat, alias mampu berpikir cepat dan
cerdas_amiin, semoga bener).
So, LEMOD (pake D) yang ane maksud di sini adalah akhwat yang
“keLEwat MODis” (adakah? Hmm…banyak malah!). Apalagi dengan model-model
jilbab en baju yang semakin variatif belakangan ini. Ada kerudung yang
belah tengah, belah pinggir (hee..kayak rambut aja), belah ketupat (ops,
ngarang dink!), ada yang pake renda, bordil, bertali, berkerut, motif
bunga-bunga, kotak-kotak, garis-garis, warna-warni, whuaaahhh pokoknya
rame dah! Hmm…cantik siee…Tapi, semoga masih tetep dalam koridor syar’i.
Modis boleh (bahkan ada sebagian akhwat yang “berijtihad” harus!), tapi
mbok ya jangan kelewatan. Masa ada akhwat yang dari ujung kepala sampe
ujung kaki pake warna yang sama. Biruuuu semua, Ato ijoooo semua (kan
gak lucu kalo ada yang nyeletuk, “eh, liat. Ada pohon berjalan tuh”
hihihi…). Dari kerudung, baju, rok (ato ada juga yang make jubah),
manset (dekker), kaos kaki, tas, semuaaa satu warna. Ada juga yang
berpendapat lain tentang makna modis itu sendiri. Maksud hati ingin
dibilang lebih modis en lebih kreatif, akhirnya dipakailah tiga warna
berbeda sekaligus. Jilbab merah, baju kuning, dan rok ijo (hehe…ada
lampu lalu lintas jalan-jalan tuh..). So, proporsional laaah…yang
sederhana tapi gak norak or malu-maluin. Yang biasa aja tapi bersahaja.
Yang wajar tapi tetep indah dan enak dipandang mata. Iya, emang sie
relatif… Tapi setidaknya bisa disesuaikan ma lingkungan sekitar en
masyarakat tempat qta berada, karena merekalah yang akan menilai. ‘Alaa
kulli haal, syar’I harus menjadi patokan utama yang nggak bisa
ditawar-tawar lagi. Otre?!
Be a beautiful akhwat, inner en outter beauty.
13. Akhwat JUBIR
Untuk tipe ini, qta sebut saja do’i, AKHWAT JUBIR (bukan Prenz, bukan
juru bicara. Tapi, JUga BIsa Rame!). Kenapa ane bilang butuh penelitian
yang serius? Karena ane harus meneliti: Apakah keramean akhwat itu
hanya berdasarkan karakter/bawaan yang emang dah dari sononya rame ato
semua tipe akhwat pun (mulai dari lemper, narasi, sosis, tumor, EM3, dll
yang udah qta bahas sebelumnya) berpotensi untuk bisa bikin rame binti
heboh?! Dan ternyata, penelitian itu menghasilkan sebuah simpulan bahwa
peluang untuk menjadi Akhwat Jubir memang terbuka bagi siapa saja. Ya!
Siapa saja. *gayanya seperti sedang mengungkap kebenaran yang sudah lama
ditutup-tutupi (halah!).
Kembali ke AKHWAT JUBIR. Akhwat emang bisa dan boleh rame, tapi cukup
antar sesama akhwat aja dan di forum yang emang gak resmi, trus ramenya
juga jangan kebablasan ya Non! Kalo di depan mad’u ato mutarobbi-nya aja
si akhwat sok jaim (biar terlihat lebih dewasa, bijaksana, en berwibawa
gitu!). Ato pas lagi di depan MR-nya, si akhwat bisa memasang tampang
kalem, adem, ayem, polos binti lugu. Apalagi di depan para ikhwan, dia
bisa lebih tegas, kaku, serius, en stay cool Man! Bahkan, saking
jaim-nya, sebagian akhwat ada yang anti banget memanggil ikhwan dengan
sebutan ‘akh’ (nadanya, gimanaaa gitu! Akh…! Ane juga rasanya gmn gt
kslo dipanggil akh ma si ukhty. Hehehe. Adem hati ane maksudnya. Jangan
ngeres deh!). Doi lebih enjoy memanggil makhluk berjenggot (bukan jenis
hewan lho ya!) itu dengan sebutan Pak! (banyak juga sie yang protes: ane
kan belum punya anak ukh, belum merit pula, baru juga masuk kuliah, koq
dipanggil Pak seeh?!). Iya, iya…’afwan jiddan Wan, bagi penganut
“madzhab” ini, panggilan ‘Pak’ juga termasuk bentuk”penjagaan”. Bahkan
nih, ada “madzhab” lain yang “berijtihad” dengan mengganti semua sebutan
Akh, Pak, dan nama-nama si ikhwan dengan nama ‘Afwan (awas dimarahin
ortunya lho ukh! masak nama anak orang diganti2 seenaknya!). Mau contoh?
Saat acara kepanitiaan, si akhwat dengan tegas berkata pada si ikhwan:
‘Afwan, bisa minta tolong jemput pembicara di jalan X, ban motor beliau
pecah. Atau: ‘Afwan, sound system-nya udah di chek belum? ‘Afwan,
sebaiknya acara segera dimulai, kasihan peserta sudah terlalu lama
menunggu. Ada juga yang lewat SMS: ‘Afwan, ane gak bisa hadir syuro.
‘Afwan, Acaranya jadi ahad depan kan? Dll, dsb, dst….Jangan2 abiz gitu
ada orang ammah yang ngira kalo nama ikhwan itu si ‘Afwan, kan gak lucu
kalo tiba2 dia ikutan manggil si ikhwan dengan: Hey, ‘Afwan! Dari mane
aje lu? (Huwahahaha…Ops! ‘Afwan, kebablasan). Kayaknya perlu materi MBA
di kalangan Aktivis Dakwah deh. (bukan, bukan MBA yang ‘itu’. Tapi,
Manajemen By ‘Afwan. Heheh).
Kembali ke topik. So, sah-sah aja koq kalo akhwat rame, tapi liat2 sikon
ya Mbak! Jangan rame pas lagi Guru or Dosen menjelaskan (ya iyya laah,
bisa dikeluarin tuh). Jangan rame saat orang2 lagi pada bobo (bisa2 ada
bantal meluncur kea rah Anti. Hehehe…). Jangan rame saat ada kajian.
Jangan rame saat liqo. Jangan rame di kamar mandi. Dan yang terpenting,
jangan rame pas lagi sepi alias ga ada orang sama sekali (secara, Anti
bisa dikira penghuni RSJ yang lagi lepas ukh. Hihihi…).
Rame terkadang diperlukan untuk memecah kesunyian. Rame juga
dibutuhkan untuk mencairkan suasana yang membeku bak es batu. Rame di
sini maksudnya obrolan disertai guyonan atau canda yang nggak melanggar
syar’i dan gak kelewat batas. Ya, sekadarnya aja lah..biar suasana
tegang menjadi riang, biar stress menjadi hilang.
Nah, dari paparan Akhwat Jubir di atas, makin terbukalah wawasan kita
mengenai sosok bernama akhwat. Berhubung sudah ada bukti dari
penelitian terdahulu (dalam Proposal Penelitian Seorang Akhwat), yang
menyatakan bahwa akhwat bukanlah makhluk halus melainkan makhluk kasar
(baca: manusia) yang tak luput dari salah dan dosa serta memiliki banyak
sekali kekurangn dan kelebihan, maka dapat ditarik benang birunya bahwa
ternyata: Rajin Pangkal Pandai, Malas Pangkal Bodoh! (iye, iye, ane
tau..kagak nyambung kan?). Maka, dengan sepenuh hati ane nyatakan bahwa:
Tak Ada Akhwat Yang Tak Retak.
Hmmf…Dasar Akhwat!
14. Akhwat Tompi
Pren, kenal Tompi kan? Itu tuh penyanyi asal Aceh aliran Jazz yang
kalo manggung always pake topi (tau kan? tau kan?). Yeaah…biarlah Tompi
hidup damai dan bahagia di sisinya (maksudnya, di sisi istrinya,
hehe..). Qta gak lagi bicarain pemilik suara khas itu koq. Ngapain juga
ngurusin orang, kita kan bukan akhwat Amigos, ya nggak?
Tompi di sini maksudnye, TOMboy en sPortI (ciyeh, keren kan?).
Sekilas, akhwat ini emang gak da bedanya ma akhwat yang lain. Do’i tetep
pake jilbab gede, kaos kaki, dan jubah kebesarannya. Tapi, kalo qta
perhatikan lebih seksama, ternyata akhwat ini memang beda! Dari cara
ngomongnya, gerak-geriknya, tindak-tanduknya, penampilannya, yang
kesemuanya terkesan: cool maaan!! Kalo akhwat lain suka buat fanniyah
(keterampilan dan kerajinan), ni akhwat malah lebih suka basketan
(olahraga). Kalo akhwat lain dengan gayanya yang feminim, do’i malah
terkesan macho en rada maskulin. Ada kemungkinan, sebelum hijrah, do’i
emang dah tomboy. Misalnya karena dulu gaulnya banyak ama anak cowok.
Atau dari sebelas bersaudara, dia anak cewek sendiri. Mungkin juga
lingkungan keluarga dan masyarakat di tempatnya yang membentuk
karakternya yang seperti itu. Banyak faktor. Walhasil, jadilah dia
akhwat yang memiliki karakter dan sikap yang “keikhwan-ikhwanan”. Tapi,
selama masih dalam batas kewajaran, ni akhwat gak berbahaya koq, Pren.
Tenang, bagaimanapun naluri keibuan dan kewanitaannya masih ada dan
terjaga. InsyaAllah..
15. Akhwat Apel
Waduh, apel?? Aja-aja ada nih! Apaan lagi tuh?? Apel adalah……Akhwat
yang Amat suPEL!! (beeeeeeuu..! Kaya iklan Changcutters). Akhwat yang
satu ini enak banget kalo diajak ngobrol, nyambung, ramah, pokoknya
asyik deeeh!! Gaul ama dia emang nyenengin. Do’i mudah akrab ma siapa
aja. Padahal baru kenal, tapi dah kayak teman lama. Untuk definisi supel
ini, insyaAllah kalian semua lebih tau. Yaa….gitu deh. Tapi, kalo ma
cowok or ikhwan supelnya jangan kelewatan ya. Maksudnya, perhatikan juga
adab-adab pergaulan dan berinteraksi dengan lawan bicara Antunna.
Otre?!!
16. Akhwat Donat
Wah, donat??? Maaauuuu…!!! hehehe….Siapa yang doyan donaaat?? Eh,
salah. Maksud ane, siapa yang doyan curhaaat??? Yap! Gak salah lagi.
Dialah akhwat Donat!! Akhwat yang DOyaN curhAT. Ni akhwat sukanya emang
curhat. Tapi, dah fitrahnya kalee.. cewek kan emang gitu. Pengen
ngeluapin semua perasaan, baik kisah bahagia maupun gundah gulananya.
Sebagian ada yang curhat karena buth solusi dan pendapat dari yang
dicurhatin, namun gak sedikit dari mereka yang tujuan curhatnya hanya
sekadar mencurahkan isi hatinya saja. Dia gak butuh tanggapan, hanya
ingin didengarkan. Dia butuh teman untuk melampiaskan kekesalan atau
berbagi kebahagiaan. Dia hanya ingin orang lain merasakan apa yang ia
rasakan. Setelah ia muntahkan semua uneg-uneg yang ada di hatinya,
perasaannya akan menjadi lega. Plong! Tapi Wat, mbok ya jangan terlalu
doyan curhat. Gak semua orang bisa dijadikan tempat curhat. Liat-liat
dulu, dia mau gak dicurhatin? Orangnya bisa gak jaga rahasia? Bisa
ngasih solusi gak? Dll. Nah, daripada curhat ama orang yang salah,
mending curhat sama Allah aja! Dijamin! Rahasiamu gak bakalan kebongkar.
Mau solusi? So pasti ada! Dan Allah, siap mendengarkan curhatanmu kapan
aja! Full time. 24 jam! So…..curhat ma Allah yuuk!!
17. Akhwat Lechi
Kok gambarnya anak2? Ya jelas childist donklha gambarnya kayak gitu. Ya
suka2 ane donk, soalnya stock gambar ane tinggal ini doang sie. Hehehe…
Nah segini dulu aja tipe2 akhwat, ntar kalo ada lagi ane sambung lagi tipe2 akhwat lain.
Buat para akhwat2 sebangsa dan setanah air… “Dasar Akhwat…hehehe…Peace
bro…eh Peace sis (kalo bro itu brother, nah kalo sis ya sister… Ya tho?
hehehe) Gudbye!”
Wassalamualaikum…
sumber : http://agungky.wordpress.com
Rabu, 09 November 2011
Ulama Berjuluk “Penghidup Agama”
Ulama Berjuluk “Penghidup Agama”
Rabu, 09 November 2011
Oleh: Muhammad Luqmanul Hakim
MALAM sudah larut. Banyak orang-orang yang telah terlelap merangkai mimpi. Namun, ada seorang pemuda yang masih terlihat menikmati bacaannya. Ketika rasa kantuk menyerang, ia sandarkan tubuh dan kepalanya pada buku sebentar, lalu terbangun kembali. Tanpa merebahkan punggungnya di tempat tidur, ia lalu meneruskan aktifitas yang menjadi hobinya, yaitu membaca. Begitu seterusnya, hingga ia menunaikan sholat tahajjud.
Menjelang sholat subuh, ia meraih roti yang ia simpan dan memakannya sebagai sahur yang sekaligus menjadi makan malam serta makan siangnya. Ia sudah terbiasa berpuasa dan makan sekali dalam sehari semalam.
Kemudian pada keesokan harinya, ia semakin “gila” mengejar ilmu. Ia pelajari 12 cabang ilmu pada guru-gurunya. Tak sedikit-pun waktunya yang tersia-sia. Bahkan ketika berjalan pun ia terus mengulang-ulang ilmu yang telah dihafalnya, atau membaca buku yang ditelaahnya.
Itulah sosok Imam Nawawi, ulama yang dalam usia muda sudah menghasilkan karya-karya mendunia. Kitab-kitabnya tersebar di berbagai belahan dunia. Bahkan, sebagian dari kitab-kitab yang ditulisnya masih menjadi rujukan utama di kalangan para penuntut ilmu hingga saat ini, termasuk di berbagai pondok pesantren di Indonesia.
Rihlah Ilmiah
Imam Nawawi bernama lengkap Yahya bin Syarf bin Muriy bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jam’ah bin Hizaam An-Nawawi Ad-Dimasyqiy. Ia disebut juga sebagai Abu Zakariya, padahal ia tidak mempunyai anak yang bernama Zakariya. Karena ia belum sempat menikah dan membujang hingga akhir hayatnya. Selain itu, orang-orang memberinya gelar "Muhyiddin" (orang yang menghidupkan agama). Padahal ia tidak menyukai gelar ini. Bahkan diriwayatkan ia pernah berkata: “Aku tidak akan memaafkan orang yang menggelariku Muhyiddin.” Ucapan itu tidak akan lahir lain kecuali karena sikap ketawaddu’annya.
Ulama kebanggan umat ini lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus (yang sekarang menjadi ibu kota Suriah) pada bulan Muharram tahun 631 H (1233 M). Kedua tempat tersebut kemudian menjadi nisbat namanya, yaitu an-Nawawi ad-Dimasyqi.
Sejak kecil Imam Nawawi dikenal sebagai anak yang cerdas dan tidak suka bermain. Pernah suatu ketika ia dipaksa bermain oleh teman-teman sebayanya. Namun ia menolak dan menangis karena paksaan tersebut. Ia lebih suka menghafalkan Al-Quran daripada memenuhi ajakan teman-temannya. Maka tidak mengherankan, sebelum baligh ia sudah hafal Al-Quran 30 juz.
Ketika Syeikh Yasin bin Yusuf Az-Zarkasyi, salah satu ulama di zamannya mengetahui hal itu, ia pun mendatangi orang tuanya. Ia berpesan bahwa anak ini diharapkan akan menjadi orang paling pintar dan paling zuhud pada masanya dan bisa memberikan manfaat yang besar kepada umat Islam. Orangtua dan gurunya pun semakin memberikan perhatian lebih kepada Imam Nawawi kecil.
Pada tahun 649 H (1251 M), yaitu ketika usianya mencapai 19 tahun, Imam Nawawi melakukan rihlah ilmiah ke kota damaskus. Di sana ia “mondok” di lembaga pendidikan al-Ruwahiyyah atas beasiswa dari lembaga tersebut. Lembaga pendidikan ini dekat dengan masjid termegah pertama di dunia, yaitu masjid Al-Jami’ Al-Umawy. Di sana ia memulai perjalanannya menuntut ilmu. Ia menghabiskan seluruh waktunya untuk menuntut ilmu sehingga ilmu pun memberikan kepadanya sebagian darinya.
Guru dan Muridnya
Imam Nawawi memiliki banyak guru dan murid. Guru-gurunya merupakan ulama yang ahli di bidangnya. Sedangkan di antara murid-muridnya banyak yang kemudian menjadi ulama besar.
Dalam bidang fiqih dan ushul fiqih, sang Imam berguru pada Ishaq bin Ahmad bin ’Utsman al-Maghribi (w. 650 H), Abdurrahman bin Nuh bin Muhammad al-Maqdisi (w. 654 H), Sallar bin aI-Hasan al-Irbali (w. 670 H), Umar bin Bandar bin Umar at-Taflisi asy-Syafi’I (w. 672 H), dan Abdurrahman bin Ibrahim bin Dhiya’ al-Fazari (w. 690 H.)
Sementara dalam bidang ilmu hadits, ia berguru pada Abdurrahman bin Salim bin Yahya al-Anbari (w. 661 H), Abdul ’Aziz bin Muhammad bin Abdul Muhsin al-Anshari (w. 662 H), Khalid bin Yusuf an-Nablusi (w. 663 H), Ibrahim bin ’Isa al-Muradi (w. 668 H), Isma’il bin Abi Ishaq at-Tanukhi (w.672 H), dan Abdurrahman bin Abi Umar al-Maqdisi (w. 682 H).
Lalu dalam bidang nahwu dan bahasa, guru-gutrunya adalah Syaikh Ahmad bin Salim al-Mishri (w. 664 H), dan juga al-’Izz al-Maliki.
Adapun murid-muridnya yang kemudian menjadi ulama besar, di antaranya adalah Sulaiman bin Hilal al-Ja’fari, Ahmad Ibnu Farah al-Isybili, Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dullah bin Jama’ah, , Syamsuddin bin an-Naqib, dan Syamsuddin bin Ja’wan, ’Ala-uddin ’Ali Ibnu Ibrahim dan masih banyak yang lainnya.
Pujian Ulama
Banyak ulama yang memberikan apresiasi tinggi kepada Imam Nawawi. Adz-Dzahabi, misalnya pernah berkata: "Imam Nawawi adalah profil manusia yang berpola hidup sangat sederhana dan anti kemewahan. Ia merupakan sosok manusia yang bertaqwa, qana’ah, wara,' memiliki muraqabatullah baik di saat sepi maupun ramai.
Ia tidak menyukai kesenangan pribadi seperti berpakaian indah, makan minum lezat, dan tampil mentereng. Makanannya hanyalah roti dengan lauk seadanya. Pakaiannya adalah pakaian yang sangat sederhana, dan alas tidurnya hanyalah kulit yang disamak. Ia selalu berusaha untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar sekalipun terhadap penguasa. Tidak jarang ia mengirimi surat para penguasa yang berisi nasihat agar berlaku adil dalam mengemban amanah kekuasaan, menghapus cukai, dan mengembalikan hak kepada ahlinya.
Adapun Abul Abbas bin Faraj pernah bertutur: "Syeikh (An-Nawawi) telah berhasil meraih 3 tingkatan yang mana 1 tingkatannya saja jika orang biasa berusaha untuk meraihnya, tentu akan merasa sulit. Tingkatan pertama adalah ilmu (yang dalam dan luas). Tingkatan kedua adalah zuhud. Dan tingkatan ketiga adalah keberanian dan kepiawaiannya dalam beramar ma’ruf nahi munkar."
Cinta Ilmu
Kalau berbicara tentang kecintaan terhadap ilmu, Imam Nawawi adalah sosok yang bisa dijadikan teladan utama. Atas kecintaannya terhadap ilmu, ia menghindari kenikmatan-kenikmatan duniawi yang secara umum manusia cenderung kepadanya .
Kenikmatan berupa makanan, misalnya. Ia tak mau aktifitas makan mengganggu kegiatan belajarnya. Dalam sehari semalam ia tidak makan kecuali sekali setelah waktu akhir isya' dan tidak minum kecuali sekali pada waktu sahur.
Ia makan roti yang dibawakan oleh ayahnya dari desa Nawa yang dibuat sendiri dan cukup untuk persediaan selama satu minggu. Ia juga tidak pernah memakan kecuali satu macam makanan seperti madu, cuka, atau minyak. Sedangkan daging, Imam Nawawi memakannya sekali dalam sebulan, dan hampir tidak pernah ia memakan makanan dengan dua lauk selama hidupnya. Baginya, makan tidak lain hanyalah untuk sekedar menjaga kesehatan tubuhnya.
Kenikmatan lain yang ia hindari dan lebih memilih belajar adalah tidur. Ia tidak pernah menyengaja tidur. Biasanya ia tertidur ketika sedang membaca buku. Itu pun setelah bangun langsung membaca lagi. Ia pernah berkata, “Apabila kantuk mengalahkan diriku maka aku bersandar pada buku sebentar lalu aku terbangun”.
Pernah suatu ketika, salah seorang temannya datang dengan membawa makanan yang masih ada kulitnya, namun ia tidak bersedia memakannya. Ia berkata, “Saya khawatir tubuh saya lembab sehingga saya tertidur”.
Bahkan, yang membuat orang terkagum-kagum atas kegigihannya dalam menuntut ilmu, yaitu ketika muridnya yang bernama ‘Ala-uddin Ibnill ‘Aththar menuturkan bahwa selama 2 tahun penuh ia tidak merebahkan badannya ke bumi, melainkan tidur bersandar pada bukunya.
Selain itu, kenikmatan lain yang ia hindari adalah menikah. Ia sebenarnya bukan tidak mau menikah apalagi menolak syariat nikah. Bahkan, dalam kitab-kitabnya juga banyak yang menyinggung masalah pernikahan. Hanya saja, ia tidak sempat memikirkannya karena besarnya rasa cinta terhadap ilmu. Oleh karena itu, ketika meninggal pada umur 45 tahun ia tetap membujang.
Karya-karyanya
Imam Nawawi merupakan ulama yang dalam usia muda, yaitu sejak berusia 30, sudah menghasilkan karya besar lintas negara dan lintas zaman. Buah karyanya tersebut hingga saat ini selalu menjadi bahan perhatian dan diskusi setiap Muslim serta selalu digunakan sebagai rujukan di hampir seluruh belantara dunia Islam.
Di dalam karya-karyanya didapati kemudahan dalam mencernanya, keunggulan dalam argumentasinya, kejelasan dalam kerangka berfikirnya serta keobjektifan dalam memaparkan pendapat-pendapat para fuqaha’.
Di antara karyanya yang berjumlah sekitar 40 tersebut ada yang telah ia selesaikan dan ada pula yang belum terselesaikan. Di antara yang telah terselesaikan adalah kitab al-Arba’in Nawawi, Syarh Shahih Muslim, ar-Raudhah (Raudhatut Thalibin), al-Minhaj, Riyadhus Shalihin, al-Adzkar, at-Tibyan, Tahir Tanbih wa Tashhth, Tahdibul Asma’ wal Lughat, Thabaqatul Fuqaha’ dan lain-lain.
Adapun yang belum terselesaikan – andaikatan ia menyelesaikannya, maka tidak ada yang bisa menandingi kitab tersebut, yakni Syarh Muhadzdzab yang bernama al-Majmu’. Ia baru menyelesaikan sampai bab riba saja. Susunannya bagus dan sangat bermanfaat serta kritis. Dalam kitab tersebut, ia mengupas fiqih madzhab Syafi’i dan yang lainnya, menerangkan hadits dengan baik, menjelaskan kalimat-kalimat asing dan perkara-perkara penting yang hanya dijumpai dalam kitab tersebut”.
Demikianlah profil Imam Nawawi, salah satu ulama kebanggan umat. Ulama yang dalam usia muda sudah menghasilkan karya-karya mendunia. Semoga kita bisa meneladaninya dalam kehidupan kita. Amin.
Penulis sedang mengikuti Program Kaderisasi Ulama (PKU)
Hidayatullah.com - Ulama Berjuluk “Penghidup Agama”
Rabu, 09 November 2011
Oleh: Muhammad Luqmanul Hakim
MALAM sudah larut. Banyak orang-orang yang telah terlelap merangkai mimpi. Namun, ada seorang pemuda yang masih terlihat menikmati bacaannya. Ketika rasa kantuk menyerang, ia sandarkan tubuh dan kepalanya pada buku sebentar, lalu terbangun kembali. Tanpa merebahkan punggungnya di tempat tidur, ia lalu meneruskan aktifitas yang menjadi hobinya, yaitu membaca. Begitu seterusnya, hingga ia menunaikan sholat tahajjud.
Menjelang sholat subuh, ia meraih roti yang ia simpan dan memakannya sebagai sahur yang sekaligus menjadi makan malam serta makan siangnya. Ia sudah terbiasa berpuasa dan makan sekali dalam sehari semalam.
Kemudian pada keesokan harinya, ia semakin “gila” mengejar ilmu. Ia pelajari 12 cabang ilmu pada guru-gurunya. Tak sedikit-pun waktunya yang tersia-sia. Bahkan ketika berjalan pun ia terus mengulang-ulang ilmu yang telah dihafalnya, atau membaca buku yang ditelaahnya.
Itulah sosok Imam Nawawi, ulama yang dalam usia muda sudah menghasilkan karya-karya mendunia. Kitab-kitabnya tersebar di berbagai belahan dunia. Bahkan, sebagian dari kitab-kitab yang ditulisnya masih menjadi rujukan utama di kalangan para penuntut ilmu hingga saat ini, termasuk di berbagai pondok pesantren di Indonesia.
Rihlah Ilmiah
Imam Nawawi bernama lengkap Yahya bin Syarf bin Muriy bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jam’ah bin Hizaam An-Nawawi Ad-Dimasyqiy. Ia disebut juga sebagai Abu Zakariya, padahal ia tidak mempunyai anak yang bernama Zakariya. Karena ia belum sempat menikah dan membujang hingga akhir hayatnya. Selain itu, orang-orang memberinya gelar "Muhyiddin" (orang yang menghidupkan agama). Padahal ia tidak menyukai gelar ini. Bahkan diriwayatkan ia pernah berkata: “Aku tidak akan memaafkan orang yang menggelariku Muhyiddin.” Ucapan itu tidak akan lahir lain kecuali karena sikap ketawaddu’annya.
Ulama kebanggan umat ini lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus (yang sekarang menjadi ibu kota Suriah) pada bulan Muharram tahun 631 H (1233 M). Kedua tempat tersebut kemudian menjadi nisbat namanya, yaitu an-Nawawi ad-Dimasyqi.
Sejak kecil Imam Nawawi dikenal sebagai anak yang cerdas dan tidak suka bermain. Pernah suatu ketika ia dipaksa bermain oleh teman-teman sebayanya. Namun ia menolak dan menangis karena paksaan tersebut. Ia lebih suka menghafalkan Al-Quran daripada memenuhi ajakan teman-temannya. Maka tidak mengherankan, sebelum baligh ia sudah hafal Al-Quran 30 juz.
Ketika Syeikh Yasin bin Yusuf Az-Zarkasyi, salah satu ulama di zamannya mengetahui hal itu, ia pun mendatangi orang tuanya. Ia berpesan bahwa anak ini diharapkan akan menjadi orang paling pintar dan paling zuhud pada masanya dan bisa memberikan manfaat yang besar kepada umat Islam. Orangtua dan gurunya pun semakin memberikan perhatian lebih kepada Imam Nawawi kecil.
Pada tahun 649 H (1251 M), yaitu ketika usianya mencapai 19 tahun, Imam Nawawi melakukan rihlah ilmiah ke kota damaskus. Di sana ia “mondok” di lembaga pendidikan al-Ruwahiyyah atas beasiswa dari lembaga tersebut. Lembaga pendidikan ini dekat dengan masjid termegah pertama di dunia, yaitu masjid Al-Jami’ Al-Umawy. Di sana ia memulai perjalanannya menuntut ilmu. Ia menghabiskan seluruh waktunya untuk menuntut ilmu sehingga ilmu pun memberikan kepadanya sebagian darinya.
Guru dan Muridnya
Imam Nawawi memiliki banyak guru dan murid. Guru-gurunya merupakan ulama yang ahli di bidangnya. Sedangkan di antara murid-muridnya banyak yang kemudian menjadi ulama besar.
Dalam bidang fiqih dan ushul fiqih, sang Imam berguru pada Ishaq bin Ahmad bin ’Utsman al-Maghribi (w. 650 H), Abdurrahman bin Nuh bin Muhammad al-Maqdisi (w. 654 H), Sallar bin aI-Hasan al-Irbali (w. 670 H), Umar bin Bandar bin Umar at-Taflisi asy-Syafi’I (w. 672 H), dan Abdurrahman bin Ibrahim bin Dhiya’ al-Fazari (w. 690 H.)
Sementara dalam bidang ilmu hadits, ia berguru pada Abdurrahman bin Salim bin Yahya al-Anbari (w. 661 H), Abdul ’Aziz bin Muhammad bin Abdul Muhsin al-Anshari (w. 662 H), Khalid bin Yusuf an-Nablusi (w. 663 H), Ibrahim bin ’Isa al-Muradi (w. 668 H), Isma’il bin Abi Ishaq at-Tanukhi (w.672 H), dan Abdurrahman bin Abi Umar al-Maqdisi (w. 682 H).
Lalu dalam bidang nahwu dan bahasa, guru-gutrunya adalah Syaikh Ahmad bin Salim al-Mishri (w. 664 H), dan juga al-’Izz al-Maliki.
Adapun murid-muridnya yang kemudian menjadi ulama besar, di antaranya adalah Sulaiman bin Hilal al-Ja’fari, Ahmad Ibnu Farah al-Isybili, Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dullah bin Jama’ah, , Syamsuddin bin an-Naqib, dan Syamsuddin bin Ja’wan, ’Ala-uddin ’Ali Ibnu Ibrahim dan masih banyak yang lainnya.
Pujian Ulama
Banyak ulama yang memberikan apresiasi tinggi kepada Imam Nawawi. Adz-Dzahabi, misalnya pernah berkata: "Imam Nawawi adalah profil manusia yang berpola hidup sangat sederhana dan anti kemewahan. Ia merupakan sosok manusia yang bertaqwa, qana’ah, wara,' memiliki muraqabatullah baik di saat sepi maupun ramai.
Ia tidak menyukai kesenangan pribadi seperti berpakaian indah, makan minum lezat, dan tampil mentereng. Makanannya hanyalah roti dengan lauk seadanya. Pakaiannya adalah pakaian yang sangat sederhana, dan alas tidurnya hanyalah kulit yang disamak. Ia selalu berusaha untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar sekalipun terhadap penguasa. Tidak jarang ia mengirimi surat para penguasa yang berisi nasihat agar berlaku adil dalam mengemban amanah kekuasaan, menghapus cukai, dan mengembalikan hak kepada ahlinya.
Adapun Abul Abbas bin Faraj pernah bertutur: "Syeikh (An-Nawawi) telah berhasil meraih 3 tingkatan yang mana 1 tingkatannya saja jika orang biasa berusaha untuk meraihnya, tentu akan merasa sulit. Tingkatan pertama adalah ilmu (yang dalam dan luas). Tingkatan kedua adalah zuhud. Dan tingkatan ketiga adalah keberanian dan kepiawaiannya dalam beramar ma’ruf nahi munkar."
Cinta Ilmu
Kalau berbicara tentang kecintaan terhadap ilmu, Imam Nawawi adalah sosok yang bisa dijadikan teladan utama. Atas kecintaannya terhadap ilmu, ia menghindari kenikmatan-kenikmatan duniawi yang secara umum manusia cenderung kepadanya .
Kenikmatan berupa makanan, misalnya. Ia tak mau aktifitas makan mengganggu kegiatan belajarnya. Dalam sehari semalam ia tidak makan kecuali sekali setelah waktu akhir isya' dan tidak minum kecuali sekali pada waktu sahur.
Ia makan roti yang dibawakan oleh ayahnya dari desa Nawa yang dibuat sendiri dan cukup untuk persediaan selama satu minggu. Ia juga tidak pernah memakan kecuali satu macam makanan seperti madu, cuka, atau minyak. Sedangkan daging, Imam Nawawi memakannya sekali dalam sebulan, dan hampir tidak pernah ia memakan makanan dengan dua lauk selama hidupnya. Baginya, makan tidak lain hanyalah untuk sekedar menjaga kesehatan tubuhnya.
Kenikmatan lain yang ia hindari dan lebih memilih belajar adalah tidur. Ia tidak pernah menyengaja tidur. Biasanya ia tertidur ketika sedang membaca buku. Itu pun setelah bangun langsung membaca lagi. Ia pernah berkata, “Apabila kantuk mengalahkan diriku maka aku bersandar pada buku sebentar lalu aku terbangun”.
Pernah suatu ketika, salah seorang temannya datang dengan membawa makanan yang masih ada kulitnya, namun ia tidak bersedia memakannya. Ia berkata, “Saya khawatir tubuh saya lembab sehingga saya tertidur”.
Bahkan, yang membuat orang terkagum-kagum atas kegigihannya dalam menuntut ilmu, yaitu ketika muridnya yang bernama ‘Ala-uddin Ibnill ‘Aththar menuturkan bahwa selama 2 tahun penuh ia tidak merebahkan badannya ke bumi, melainkan tidur bersandar pada bukunya.
Selain itu, kenikmatan lain yang ia hindari adalah menikah. Ia sebenarnya bukan tidak mau menikah apalagi menolak syariat nikah. Bahkan, dalam kitab-kitabnya juga banyak yang menyinggung masalah pernikahan. Hanya saja, ia tidak sempat memikirkannya karena besarnya rasa cinta terhadap ilmu. Oleh karena itu, ketika meninggal pada umur 45 tahun ia tetap membujang.
Karya-karyanya
Imam Nawawi merupakan ulama yang dalam usia muda, yaitu sejak berusia 30, sudah menghasilkan karya besar lintas negara dan lintas zaman. Buah karyanya tersebut hingga saat ini selalu menjadi bahan perhatian dan diskusi setiap Muslim serta selalu digunakan sebagai rujukan di hampir seluruh belantara dunia Islam.
Di dalam karya-karyanya didapati kemudahan dalam mencernanya, keunggulan dalam argumentasinya, kejelasan dalam kerangka berfikirnya serta keobjektifan dalam memaparkan pendapat-pendapat para fuqaha’.
Di antara karyanya yang berjumlah sekitar 40 tersebut ada yang telah ia selesaikan dan ada pula yang belum terselesaikan. Di antara yang telah terselesaikan adalah kitab al-Arba’in Nawawi, Syarh Shahih Muslim, ar-Raudhah (Raudhatut Thalibin), al-Minhaj, Riyadhus Shalihin, al-Adzkar, at-Tibyan, Tahir Tanbih wa Tashhth, Tahdibul Asma’ wal Lughat, Thabaqatul Fuqaha’ dan lain-lain.
Adapun yang belum terselesaikan – andaikatan ia menyelesaikannya, maka tidak ada yang bisa menandingi kitab tersebut, yakni Syarh Muhadzdzab yang bernama al-Majmu’. Ia baru menyelesaikan sampai bab riba saja. Susunannya bagus dan sangat bermanfaat serta kritis. Dalam kitab tersebut, ia mengupas fiqih madzhab Syafi’i dan yang lainnya, menerangkan hadits dengan baik, menjelaskan kalimat-kalimat asing dan perkara-perkara penting yang hanya dijumpai dalam kitab tersebut”.
Demikianlah profil Imam Nawawi, salah satu ulama kebanggan umat. Ulama yang dalam usia muda sudah menghasilkan karya-karya mendunia. Semoga kita bisa meneladaninya dalam kehidupan kita. Amin.
Penulis sedang mengikuti Program Kaderisasi Ulama (PKU)
Hidayatullah.com - Ulama Berjuluk “Penghidup Agama”
Senin, 07 November 2011
Ketika Hewan Menjadi “Primadona Religi”
Sabtu, 05 November 2011
Oleh: Drh. Arif Rahman Hakim
Setiap masuk bulan Dzulhijjah, terutama di sepuluh hari pertamanya, hewan kurban tampak menjadi ‘primadona religi’. Umat Islam yang mampu dan mengerti akan ‘berburu’ untuk mendapatkan sang ‘primadona religi’ yang berkualifikasi terbaik. Mengapa?
Dicari, yang Terbaik
Primadona dalam konteks ini tak ada hubungannya dengan dunia artis. Itu hanyalah istilah yang dipinjam bahwa di hari-hari sekitar Idul Adha, hewan kurban dicari-cari banyak orang untuk dijadikan kurban sebagai perwujudan ketaatan kepada Allah.
Di sekitar Hari Raya Kurban, hewan yang memenuhi kualifikasi ‘layak kurban’ dicari dengan penuh antusias oleh kaum Muslimin. Subhanallah! Memang, Hari Raya Kurban memiliki arti penting bagi seluruh umat Islam. Karena, di saat-saat itu Allah membuka kesempatan emas bagi kita untuk lebih bisa mendemonstrasikan ketunduk-patuhannya kepada-Nya. Allah memberi peluang lebih besar agar kita bisa memertontonkan usaha kita yang sungguh-sungguh dalam mendekatkan diri kepada-Nya.
Semangat berkurban telah dicontohkan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s.. sebagaimana yang terekam dalam Kitab Suci. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.” (QS Ash-Shaaffaat [37]: 102).
Di kisah ini, tampak Nabi Ibrahim a.s. ‘begitu tega’ akan ‘menyembelih’ Nabi Ismail a.s.. Tapi, itu dilakukannya sebagai tanda cinta kepada Allah. Sekarang, kita berefleksi. Andai kejadian itu dialami kita, kira-kira apa yang akan kita perbuat? Mungkinkah iman dan ketaqwaan kita sekuat Ibrahim a.s. dan Ismail a.s.? Mungkinkah kita punya keberanian yang sama, mengorbankan sesuatu yang teramat kita cintai?
Semangat berkurban seperti yang dicontohkan Ibrahim a.s. dan Ismail a.s. dapat kita aplikasikan pada Hari Raya Kurban. Kita tidak harus ‘menyembelih’ putra kita. Sebagai gantinya kita cukup menyembelih sapi, kambing atau domba menurut kemampuan kita masing-masing.
Setelah memiliki semangat berkurban, ada hal lain yang perlu mendapat perhatian tentang berkurban. Salah satu hal penting yang wajib diperhatikan adalah syarat hewan kurban. Mengapa harus ada syarat?
Ingatlah kembali kisah ini! “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): ‘Aku pasti membunuhmu!’ Berkata Habil: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa’.“ (QS Al-Maaidah [5]: 27).
Mengapa kurban Habil diterima, sedang kurban Qabil tidak? Ternyata, Habil mengurbankan domba yang kualitasnya baik dan dengan niat ikhlas. Sementara, Qabil mengurbankan buah-buahan yang kualitasnya tidak baik dan dibarengi sikap tak ikhlas.
Inti pesan dari kisah di atas, bahwa kualitas kurban yang kita persembahkan mencerminkan kadar keimanan dan keikhlasan kita. Bukankah hakikat berkurban adalah memberikan yang terbaik dari yang kita miliki?
Jadi, saat akan memilih hewan kurban kita patut untuk berkaca kepada kasus ‘Habil-Qabil’ saat keduanya berkurban. Hewan kurban yang akan kita ‘persembahkan’ hendaknya memenuhi persyaratan ‘administrasi’.
Untuk itu, sebenarnya cukup mudah untuk mendapatkan hewan kurban yang sesuai syariat Islam, yaitu: 1). Hewan itu sehat dan tidak cacat fisik, misalnya: tidak pincang, tidak buta sebelah, ekor tidak terpotong dan tidak terlalu kurus. 2). Umur hewan kurban : a). Domba atau kambing telah berumur 1 tahun (yang telah berganti gigi) atau lebih, b). Sapi yang telah berumur 2 tahun (yang telah berganti gigi) atau lebih.
Setelah lolos persyaratan ‘administrasi’, hewan kurban hendaknya diperiksa lagi untuk melindungi ‘konsumen’ dari bahaya penyakit menular kepada manusia (Zoonosis) oleh petugas yang berwenang. Panitia penyelenggara penyembelihan hewan kurban hendaknya lebih proaktif menginformasikan tentang kegiatan penyembelihan hewan kurban. Adapun pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan ante mortem (sebelum penyembelihan) dan pemeriksaan post mortem (setelah penyembelihan) agar daging kurban yang dihasilkan memenuhi syarat dalam hal kesehatan.
Mungkin kita berpikir, kok tampak terlalu ribet untuk hanya sekadar berkurban, karena harus melalui berbagai macam ‘aturan‘? Tetapi, jika kita perhatikan kisah Habil dan Qabil tadi, taat kepada ‘aturan‘ tersebut sebagai bukti kadar keimanan dan keikhlasan kita.
Hal terakhir yang wajib mendapat perhatian adalah cara menyembelih hewan kurban. Menurut syariat Islam, hewan dijatuhkan di lantai, di atas lubang tanah yang telah disediakan, tanduk hewan diputar kearah lantai sehingga hidung mengarah ke atas, kepala hewan harus mengarah ke selatan dan ekornya mengarah ke utara, serta muka dan kaki hewan mengarah ke Kiblat. Sementara, penyembelih harus berdiri di sebelah timur leher. Tenggorokan dan kerongkongan diputus dengan sekali tebas.
Cara menyembelih tersebut hendaknya diperhatikan karena selain sesuai dengan syariat Islam juga sangat memerhatikan aspek kesrawan (kesejahteraan hewan). Bukankah hewan juga mempunyai hak diperlakukan selayaknya hewan?
Adapun pelaksanaan kurban dilakukan setelah shalat Idul Adha sampai tiga hari sesudahnya (hari-hari tasyrik). Jadi, ada empat hari kesempatan bagi kita untuk menyembelih hewan kurban.
Semoga Idul Adha tahun ini mampu menjadikan kita sebagai manusia yang lebih baik. Misal, semangat berkurban (dalam pengertian luas) lebih meningkat. Atau, semangat untuk berbagi dengan sesama lebih meninggi. Sungguh, itu semua bermuara kepada situasi ‘lebih dekat dengan Allah’.*
Penulis alumnus FKH Unair dan peminat masalah sosial-keagamaan
Hidayatullah.com - Ketika Hewan Menjadi “Primadona Religi”
Oleh: Drh. Arif Rahman Hakim
Setiap masuk bulan Dzulhijjah, terutama di sepuluh hari pertamanya, hewan kurban tampak menjadi ‘primadona religi’. Umat Islam yang mampu dan mengerti akan ‘berburu’ untuk mendapatkan sang ‘primadona religi’ yang berkualifikasi terbaik. Mengapa?
Dicari, yang Terbaik
Primadona dalam konteks ini tak ada hubungannya dengan dunia artis. Itu hanyalah istilah yang dipinjam bahwa di hari-hari sekitar Idul Adha, hewan kurban dicari-cari banyak orang untuk dijadikan kurban sebagai perwujudan ketaatan kepada Allah.
Di sekitar Hari Raya Kurban, hewan yang memenuhi kualifikasi ‘layak kurban’ dicari dengan penuh antusias oleh kaum Muslimin. Subhanallah! Memang, Hari Raya Kurban memiliki arti penting bagi seluruh umat Islam. Karena, di saat-saat itu Allah membuka kesempatan emas bagi kita untuk lebih bisa mendemonstrasikan ketunduk-patuhannya kepada-Nya. Allah memberi peluang lebih besar agar kita bisa memertontonkan usaha kita yang sungguh-sungguh dalam mendekatkan diri kepada-Nya.
Semangat berkurban telah dicontohkan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s.. sebagaimana yang terekam dalam Kitab Suci. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.” (QS Ash-Shaaffaat [37]: 102).
Di kisah ini, tampak Nabi Ibrahim a.s. ‘begitu tega’ akan ‘menyembelih’ Nabi Ismail a.s.. Tapi, itu dilakukannya sebagai tanda cinta kepada Allah. Sekarang, kita berefleksi. Andai kejadian itu dialami kita, kira-kira apa yang akan kita perbuat? Mungkinkah iman dan ketaqwaan kita sekuat Ibrahim a.s. dan Ismail a.s.? Mungkinkah kita punya keberanian yang sama, mengorbankan sesuatu yang teramat kita cintai?
Semangat berkurban seperti yang dicontohkan Ibrahim a.s. dan Ismail a.s. dapat kita aplikasikan pada Hari Raya Kurban. Kita tidak harus ‘menyembelih’ putra kita. Sebagai gantinya kita cukup menyembelih sapi, kambing atau domba menurut kemampuan kita masing-masing.
Setelah memiliki semangat berkurban, ada hal lain yang perlu mendapat perhatian tentang berkurban. Salah satu hal penting yang wajib diperhatikan adalah syarat hewan kurban. Mengapa harus ada syarat?
Ingatlah kembali kisah ini! “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): ‘Aku pasti membunuhmu!’ Berkata Habil: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa’.“ (QS Al-Maaidah [5]: 27).
Mengapa kurban Habil diterima, sedang kurban Qabil tidak? Ternyata, Habil mengurbankan domba yang kualitasnya baik dan dengan niat ikhlas. Sementara, Qabil mengurbankan buah-buahan yang kualitasnya tidak baik dan dibarengi sikap tak ikhlas.
Inti pesan dari kisah di atas, bahwa kualitas kurban yang kita persembahkan mencerminkan kadar keimanan dan keikhlasan kita. Bukankah hakikat berkurban adalah memberikan yang terbaik dari yang kita miliki?
Jadi, saat akan memilih hewan kurban kita patut untuk berkaca kepada kasus ‘Habil-Qabil’ saat keduanya berkurban. Hewan kurban yang akan kita ‘persembahkan’ hendaknya memenuhi persyaratan ‘administrasi’.
Untuk itu, sebenarnya cukup mudah untuk mendapatkan hewan kurban yang sesuai syariat Islam, yaitu: 1). Hewan itu sehat dan tidak cacat fisik, misalnya: tidak pincang, tidak buta sebelah, ekor tidak terpotong dan tidak terlalu kurus. 2). Umur hewan kurban : a). Domba atau kambing telah berumur 1 tahun (yang telah berganti gigi) atau lebih, b). Sapi yang telah berumur 2 tahun (yang telah berganti gigi) atau lebih.
Setelah lolos persyaratan ‘administrasi’, hewan kurban hendaknya diperiksa lagi untuk melindungi ‘konsumen’ dari bahaya penyakit menular kepada manusia (Zoonosis) oleh petugas yang berwenang. Panitia penyelenggara penyembelihan hewan kurban hendaknya lebih proaktif menginformasikan tentang kegiatan penyembelihan hewan kurban. Adapun pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan ante mortem (sebelum penyembelihan) dan pemeriksaan post mortem (setelah penyembelihan) agar daging kurban yang dihasilkan memenuhi syarat dalam hal kesehatan.
Mungkin kita berpikir, kok tampak terlalu ribet untuk hanya sekadar berkurban, karena harus melalui berbagai macam ‘aturan‘? Tetapi, jika kita perhatikan kisah Habil dan Qabil tadi, taat kepada ‘aturan‘ tersebut sebagai bukti kadar keimanan dan keikhlasan kita.
Hal terakhir yang wajib mendapat perhatian adalah cara menyembelih hewan kurban. Menurut syariat Islam, hewan dijatuhkan di lantai, di atas lubang tanah yang telah disediakan, tanduk hewan diputar kearah lantai sehingga hidung mengarah ke atas, kepala hewan harus mengarah ke selatan dan ekornya mengarah ke utara, serta muka dan kaki hewan mengarah ke Kiblat. Sementara, penyembelih harus berdiri di sebelah timur leher. Tenggorokan dan kerongkongan diputus dengan sekali tebas.
Cara menyembelih tersebut hendaknya diperhatikan karena selain sesuai dengan syariat Islam juga sangat memerhatikan aspek kesrawan (kesejahteraan hewan). Bukankah hewan juga mempunyai hak diperlakukan selayaknya hewan?
Adapun pelaksanaan kurban dilakukan setelah shalat Idul Adha sampai tiga hari sesudahnya (hari-hari tasyrik). Jadi, ada empat hari kesempatan bagi kita untuk menyembelih hewan kurban.
Semoga Idul Adha tahun ini mampu menjadikan kita sebagai manusia yang lebih baik. Misal, semangat berkurban (dalam pengertian luas) lebih meningkat. Atau, semangat untuk berbagi dengan sesama lebih meninggi. Sungguh, itu semua bermuara kepada situasi ‘lebih dekat dengan Allah’.*
Penulis alumnus FKH Unair dan peminat masalah sosial-keagamaan
Hidayatullah.com - Ketika Hewan Menjadi “Primadona Religi”
Langganan:
Postingan (Atom)

