Pages

Minggu, 02 September 2012

Negeri – Negeri Di Aceh Barat Daya Dalam Lintasan Sejarah


Memahami asal-usul penduduk yang mendiami pantai Barat Daya Aceh, mulai dari ujung Manggeng hingga Ujong Raja sampai saat ini masih mengandalkan sumber lisan dan sumber tertulis yang sangat terbatas. Menurut tradisi lisan, penduduk yang pertama mendiami daerah tersebut adalah orang Batak yang mereka kaitkan dengan keberadaan nama topografi suatu tempat seperti Guha Batak di pedalaman Blangpidie. Koloni orang Batak itu dikalahkan oleh para pendatang baru yang berasal dari Sumatera Barat maupun dari daerah Aceh sendiri.Suku Minangkabau dari Sumatera Barat bermigrasi ke daerah itu yang diperkirakan terjadi pada bagian kedua abad ke-17, karena semenjak Belanda menduduki Sumatera Barat melalui Traktat Painan tahun 1663, orang Aceh yang sebelumnya mengontrol daerah tersebut dan orang Minangkabau yang tidak mau tunduk kepada Belanda merantau ke pantai Barat Aceh. Sebagian di antara mereka ada yang membangun koloni di Susoh dan sebagian lainnya di Meulaboh atau di tempat lain.


Bersamaan dengan itu, daerah tersebut didatangi pula orang Aceh yang berasal dari Aceh Besar dan Pidie dengan maksud membuka perkebunan (seuneubok) lada yang hingga awal abad ke-19 merupakan tanaman ekspor penting di Aceh.

Selasa, 07 Agustus 2012

Sejarah Abdya



Memahami asal-usul penduduk yang mendiami pantai Barat Daya Aceh, mulai dari ujung Manggeng hingga Ujong Raja sampai saat ini masih mengandalkan sumber lisan dan sumber tertulis yang sangat terbatas. Menurut tradisi lisan, penduduk yang pertama mendiami daerah tersebut adalah orang Batak yang mereka kaitkan dengan keberadaan nama topografi suatu tempat seperti Guha Batak di pedalaman Blangpidie. Koloni orang Batak itu dikalahkan oleh para pendatang baru yang berasal dari Sumatera Barat maupun dari daerah Aceh sendiri.Suku Minangkabau dari Sumatera Barat bermigrasi ke daerah itu yang diperkirakan terjadi pada bagian kedua abad ke-17, karena semenjak Belanda menduduki Sumatera Barat melalui Traktat Painan tahun 1663, orang Aceh yang sebelumnya mengontrol daerah tersebut dan orang Minangkabau yang tidak mau tunduk kepada Belanda merantau ke pantai Barat Aceh. Sebagian di antara mereka ada yang membangun koloni di Susoh dan sebagian lainnya di Meulaboh atau di tempat lain.

Bersamaan dengan itu, daerah tersebut didatangi pula orang Aceh yang berasal dari Aceh Besar dan Pidie dengan maksud membuka perkebunan (seuneubok) lada yang hingga awal abad ke-19 merupakan tanaman ekspor penting di Aceh.

Jumat, 03 Agustus 2012

'Pelangi Api' di Atas Florida Selatan


"Pelangi api" atau "fire rainbow" bukanlah api ataupun pelangi, tapi pemandangan ini sangat mengagumkan.

Secara teknis, penampakan ini disebut awan pelangi, fenomena yang sangat jarang dan disebabkan oleh awan serta tetesan air yang ukurannya relatif sama, menurut sebuah pernyataan dari NASA. Awan ini kemudian mengubah arah dan membengkokkan cahaya dengan cara serupa sehingga hasilnya adalah gelombang cahaya dan warna.

Awan ini kemudian menjadi mirip dengan pelangi sebenarnya, yang juga terbentuk oleh difraksi atau pengubahan arah cahaya, dan menghasilkan pola warna yang berganti-ganti dari biru, hijau, merah, ungu, dan kembali ke biru lagi.

Selasa, 31 Juli 2012

Perlawanan Tengku Peukan Manggeng Terhadap Belanda di Aceh Barat Daya


Perlawanan terhadap Belanda juga terjadi diwilayah Barat Daya yang dipimpin oleh Tengku Peukan Manggeng, Haji Yahya dan Sidi Rajab. Dalam suatu musyawarah yang diselenggarakan di Paya Dapu wilayah Kluet, ditetapkan Tengku Peukan Manggeng sebagai panglima perang dan penyerangan lebih dahulu dilakukan pada malam hari di tangsi (asrama) Blangpidie pada akhir tahun 1926. Tengku Peukan tergolong seorang ulama yang kharismatik dan berpengaruh di Manggeng dan sekitarnya, orang tua beliau juga merupakan seorang ulama yang berpengaruh di daerah itu. Tengku Peukan merupakan putera dari seorang ulama yang bernama Tengku Padang Ganting dan Siti Zalekha yang dilahirkan pada tahun 1886 di desa Alu Paku kecamatan Sawang Aceh Selatan. Sebagai seorang ulama dan tokoh masyarakat yang berpengaruh, Tengku Peukan semakin membahayakan posisi Belanda di Blangpidie. Dakwah Tengku Peukan selalu dimata-matai oleh kaki tangan Belanda. Tengku Peukan sering merekrut para pengikut melalui media dakwah. Dalam dakwahnya Tengku Peukan selalu memaparkan bahwa membela dan mempertahankan tanah air adalah ibadah, jika meninggal dalam peperangan sabil melawan kafir Belanda maka akan mendapatkan surga sebagai imbalannya. Tengku Peukan juga mengajak rakyat untuk menentang setiap penjajahan dan membenci setiap perampasan hak azasi manusia.