Pages

Minggu, 26 Februari 2012

Rumoh Adat Aceh


1. Asal-Usul
Kepercayaan individu atau masyarakat dan kondisi alam di mana individu atau masyarakat hidup mempunyai pengaruh signifikan terhadap bentuk arsitektur bangunan, rumah, yang dibuat. Hal ini dapat dilihat pada arsitektur Rumoh Aceh, Provinsi Daerah Istimewa Aceh, Indonesia. Rumoh Aceh merupakan rumah panggung dengan tinggi tiang antara 2,50-3 meter, terdiri dari tiga atau lima ruang, dengan satu ruang utama yang dinamakan rambat. Rumoh dengan tiga ruang memiliki 16 tiang, sedangkan Rumoh dengan lima ruang memiliki 24 tiang. Modifikasi dari tiga ke lima ruang atau sebaliknya bisa dilakukan dengan mudah, tinggal menambah atau menghilangkan bagian yang ada di sisi kiri atau kanan rumah. Bagian ini biasa disebut sramoe likot atau serambi belakang dan sramoe reunyeun atau serambi bertangga, yaitu tempat masuk ke Rumoh yang selalu berada di sebelah timur.
Pintu utama Rumoh Aceh tingginya selalu lebih rendah dari ketinggian orang dewasa. Biasanya ketinggian pintu ini hanya berukuran 120-150 cm sehingga setiap orang yang masuk ke Rumoh Aceh harus menunduk. Namun, begitu masuk, kita akan merasakan ruang yang sangat lapang karena di dalam rumah tak ada perabot berupa kursi atau meja. Semua orang duduk bersila di atas tikar ngom (dari bahan sejenis ilalang yang tumbuh di rawa) yang dilapisi tikar pandan.
Rumoh Aceh bukan sekadar tempat hunian, tetapi merupakan ekspresi keyakinan terhadap Tuhan dan adaptasi terhadap alam. Oleh karena itu, melalui Rumoh Aceh kita dapat melihat budaya, pola hidup, dan nilai-nilai yang diyakini oleh masyarakat Aceh. Adaptasi masyarakat Aceh terhadap lingkungannya dapat dilihat dari bentuk Rumoh Aceh yang berbentuk panggung, tiang penyangganya ang terbuat dari kayu pilihan, dindingnya dari papan, dan atapnya dari rumbia. Pemanfaatan alam juga dapat dilihat ketika mereka hendak menggabungkan bagian-bagian rumah, mereka tidak menggunakan paku tetapi menggunakan pasak atau tali pengikat dari rotan. Walaupun hanya terbuat dari kayu, beratap daun rumbia, dan tidak menggunakan paku, Rumoh Aceh bisa bertahan hingga 200 tahun.
Pengaruh keyakinan masyarakat Aceh terhadap arsitektur bangunan rumahnya dapat dilihat pada orientasi rumah yang selalu berbentuk memanjang dari timur ke barat, yaitu bagian depan menghadap ke timur dan sisi dalam atau belakang yang sakral berada di barat. Arah Barat mencerminkan upaya masyarakat Aceh untuk membangun garis imajiner dengan Ka‘bah yang berada di Mekkah. Selain itu, pengaruh keyakinan dapat juga dilihat pada penggunaan tiang-tiang penyangganya yang selalu berjumlah genap, jumlah ruangannya yang selalu ganjil, dan anak tangganya yang berjumlah ganjil.
Selain sebagai manifestasi dari keyakinan masyarakat dan adaptasi terhadap lingkungannya, keberadaan Rumoh Aceh juga untuk menunjukan status sosial penghuninya. Semakin banyak hiasan pada Rumoh Aceh, maka pastilah penghuninya semakin kaya. Bagi keluarga yang tidak mempunyai kekayaan berlebih, maka cukup dengan hiasan yang relatif sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali.
Seiring perkembangan zaman yang menuntut semua hal dikerjakan secara efektif dan efisien, dan semakin mahalnya biaya pembuatan dan perawatan Rumoh Aceh, maka lambat laun semakin sedikit orang Aceh yang membangun rumah tradisional ini. Akibatnya, jumlah Rumoh Aceh semakin hari semakin sedikit. Masyarakat lebih memilih untuk membangun rumah modern berbahan beton yang pembuatan dan pengadaan bahannya lebih mudah daripada Rumoh Aceh yang pembuatannya lebih rumit, pengadaan bahannya lebih sulit, dan biaya perawatannya lebih mahal. Namun, ada juga orang-orang yang karena kecintaannya terhadap arsitektur warisan nenek moyang mereka ini membuat Rumoh Aceh yang ditempelkan pada rumah beton mereka.
Keberadaan Rumoh Aceh merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai yang hidup dan dijalankan oleh masyarakat Aceh. Oleh karena itu, melestarikan Rumoh Aceh berarti juga melestarikan eksistensi masyarakat Aceh itu sendiri. Ide pelestarian Rumoh Aceh akan semakin menemukan momentum pasca tsunami yang menimpa Aceh pada taggal 26 Desember 2004. Pasca tragedi bencana alam tersebut, beragam orang dari berbagai bangsa datang tidak hanya membawa bantuan tetapi juga membawa tradisi yang belum tentu cocok dengan nilai-nilai yang berkembang di Aceh.
2. Bahan-bahan
Untuk membuat Rumoh Aceh, bahan-bahan yang diperlukan di antaranya adalah:
· Kayu. Kayu merupakan bahan utama untuk membuat Rumoh Aceh. Kayu digunakan untuk membuat tameh (tiang), toi, roek, bara, bara linteung, kuda-kuda, tuleueng rueng, indreng, dan lain sebagainya.
· Papan, digunakan untuk membuat lantai dan dinding.
· Trieng (bambu). Bambu digunakan untuk membuat gasen (reng), alas lantai, beuleubah (tempat menyemat atap), dan lain sebagainya.
· Enau (temor). Selain menggunakan bambu, adakalanya untuk membuat lantai dan dinding Rumoh Aceh menggunakan enau.
· Taloe meu-ikat (tali pengikat). Tali pengikat biasanya dibuat dari tali ijuk, rotan, kulit pohon waru, dan terkadang menggunakan tali plastik.
· Oen meuria (daun rumbia), digunakan untuk membuat atap.
· Daun enau. Selain mengunakan oen meuria, terkadang untuk membuat atap menggunakan daun enau.
· Peuleupeuk meuria (pelepah rumbia). Bahan ini digunakan untuk membuat dinding rumah, rak-rak, dan sanding.
3. Tahapan Pembangunan Rumah Rakit
Bagi masyarakat Aceh, membangun rumah bagaikan membangun kehidupan itu sendiri. Hal itulah mengapa pembangunan yang dilakukan haruslah memenuhi beberapa persyaratan dan melalui beberapa tahapan. Persyaratan yang harus dilakukan misalnya pemilihan hari baik yang ditentukan oleh Teungku (ulama setempat), pengadaan kenduri, pengadaan kayu pilihan, dan sebagainya. Oleh karena proses pembuatan Rumoh Aceh dilakukan secara cermat dengan berlandaskan kepada pengetahuan lokal masyarakat, maka Rumoh Aceh walaupun terbuat dari kayu mampu bertahan hingga ratusan tahun lamanya.
Adapun tahapan-tahapan pembangunan Rumoh Aceh adalah: (1) musyawarah, (2) pengumpulan bahan, (3) pengolahan bahan, dan (4) perangkaian bahan. Tahapan paling awal untuk mendirikan Rumoh Aceh adalah melakukan musyawarah keluarga. Kemudian dilanjutkan dengan memberiatahukan rencana pendirian rumah tersebut kepada Teungku. Tujuannya adalah untuk mendapatkan saran-saran tentang apa yang harus dilakukan agar rumah yang dibangun dapat memberikan ketenangan, ketenteraman, dan sejahtera baik lahir maupun batin kepada penghuninya.
Setelah mendapatkan saran-saran dari Teungku, dilanjutkan dengan pengadaan bahan. Pengadaan bahan-bahan dilakukan secara gotong royong. Kayu yang baik adalah kayu yang tidak dililiti akar dan apabila kayu ditebang, rebahnya tidak menyangkut kayu yang lain. Kayu-kayu tersebut kemudian dikumpulkan di suatu tempat yang terlindung dari hujan. Jika waktu pembangunan masih lama, adakalanya bahan-bahan tersebut direndam terlebih dahulu di dalam air, tujuannya agar kayu-kayu tersebut tidak dimakan babuk.
Tahap berikutnya adalah mengolah kayu sesuai dengan kegunaannya masing-masing. Setelah semuanya siap, maka dimulailah pendirian Rumoh Aceh. Pendirian awal Rumoh Aceh ditandai dengan pembuatan landasan untuk memancangkan kayu. Kayu yang pertama dipancangkan adalah tiang utama (tiang raja) dan dilanjutkan dengan tiang-tiang yang lain. Setelah semua tiang terpancang, dilanjutkan dengan pembuatan bagian tengah rumah, yang meliputi lantai rumah dan dinding rumah. Kemudian dilanjutkan dengan pembuatan bagian atas rumah yang diakhiri dengan pemasangan atap. Bagian terakhir pembangunan Rumah Aceh adalah finishing, yaitu pemasangan ornamen pendukung seperti ragam hias dan sebagainya.
4. Bagian-Bagian Rumoh Aceh
Secara umum, terbagi atas tiga bagian, yaitu: bagian bawah, bagian tengah, dan bagian atas.
a. Bagian bawah
Bagian bawah Rumoh Aceh atau yup moh merupakan ruang antara tanah dengan lantai rumah. Bagian ini berfungsi untuk tempat bermain anak-anak, kandang ayam, kambing, dan itik. Tempat ini juga sering digunakan kaum perempuan untuk berjualan dan membuat kain songket Aceh.
Bagian bawah Rumoh Aceh. Tempat ini juga digunakan untuk menyimpan jeungki atau penumbuk padi dan krongs atau tempat menyimpan padi berbentuk bulat dengan diameter dan ketinggian sekitar dua meter.
b. Bagian tengah
Bagian tengah Rumoh Aceh merupakan tempat segala aktivitas masyarakat Aceh baik yang bersifat privat ataupun bersifat public. Pada bagian ini, secara umum terdapat tiga ruangan, yaitu: ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang.
Ruang depan (seuramo reungeun). Ruangan ini disebut juga Seuramou-keu (serambi depan). Disebut ruang atau serambi depan karena di sini terdapat bungeun atau tangga untuk masuk ke rumah. Ruangan ini tidak berkamar-kamar dan pintu masuk biasanya terdapat di ujung lantai di sebelah kanan. Tapi ada pula yang membuat pintu menghadap ke halaman, dan tangganya di pinggir lantai. Dalam kehidupan sehari-hari ruangan ini berfungsi untuk menerima tamu, tempat tidur-tiduran anak laki-laki, dan tempat anak-anak belajar mengaji. Pada saat-saat tertentu misalnya pada waktu ada upacara perkawinan atau upacara kenduri, maka ruangan ini dipergunakan untuk makan bersama.
Ruangan tengah. Ruangan ini merupakan inti dari Rumoh Aceh, oleh karenanya disebut Rumoh Inong (rumah induk). Lantai pada bagian ini lebih tinggi dari ruangan lainnya, dianggap suci, dan sifatnya sangat pribadi. Di ruangan ini terdapat dua buah bilik atau kamar tidur yang terletak di kanan-kiri dan biasanya menghadap utara atau selatan dengan pintu menghadap ke belakang. Di antara kedua bilik tersebut terdapat gang (rambat) yang menghubungkan ruang depan dan ruang belakang.
Gang yang memisahkan bilik kiri dan kanan berfungsi untuk menghubungkan ruang depan dan ruang belakang.
Fungsi Rumoh Inong adalah untuk tidur kepala keluarga, dan Anjong untuk tempat tidur anak gadis. Bila anak perempuannya kawin, maka dia akan menempati Rumah Inong sedang orang tuanya pindah ke Anjong. Bila anak perempuannya yang kawin dua orang, orang tua akan pindah ke serambi atau seuramo likot, selama belum dapat membuat rumah baru atau menambah/memperlebar rumahnya. Di saat ada acara perkawinan, mempelai dipersandingkan di Rumoh Inong, begitu pula bila ada kematian Rumoh Inong dipergunakan sebagai tempat untuk memandikan mayat.
Ruang belakang disebut seuramo likot. Lantai seuramo likot tingginya sama dengan seuramo rengeun (serambi depan), dan ruangan ini pun tak berbilik. Fungsi ruangan ini sebagian dipergunakan untuk dapur dan tempat makan,dan biasanya terletak di bagian timur ruangan. Selain itu juga dipergunakan untuk tempat berbincang-bincang bagi para wanita serta melakukan kegiatan sehari-hari seperti menenun dan menyulam.
Namun, adakalanya dapur dipisah dan berada di bagian belakang serambi belakang. Ruangan ini disebut Rumoh dapu (dapur). Lantai dapur sedikit lebih rendah dibanding lantai serambi belakang.
c. Bagian atas
Bagian ini terletak di bagian atas serambi tengah. Adakalanya, pada bagian ini diberi para (loteng) yang berfungsi untuk menyimpan barang-barang keluarga. Atap Rumoh Aceh biasanya terbuat dari daun rumbia yang diikat dengan rotan yang telah dibelah kecil-kecil.
5. Ragam Hias
Dalam Rumoh Aceh, ada beberapa motif hiasan yang dipakai, yaitu: (1) motif keagamaan. Hiasan Rumoh Aceh yang bercorak keagamaan merupakan ukiran-ukiran yang diambil dari ayat-ayat al-Quran; (2) motif flora. Motif flora yang digunakan adalah stelirisasi tumbuh-tumbuhan baik berbentuk daun, akar, batang, ataupun bunga-bungaan. Ukiran berbentuk stilirisasi tumbuh-tumbuhan ini tidak diberi warna, jikapun ada, warna yang digunakan adalah Merah dan Hitam. Ragam hias ini biasanya terdapat pada rinyeuen (tangga), dinding, tulak angen, kindang, balok pada bagian kap, dan jendela rumah; (3) motif fauna. Motif binatang yang biasanya digunakan adalah binatang-binatang yang sering dilihat dan disukai; (4) motif alam. Motif alam yang digunakan oleh masyarakat Aceh di antaranya adalah: langit dan awannya, langit dan bulan, dan bintang dan laut; dan (5) motif lainnya, seperti rantee, lidah, dan lain sebagainya.
6. Nilai-Nilai
Wujud dari arsitektur Rumoh Aceh merupakan pengejawantahan dari kearifan dalam menyikapi alam dan keyakinan (religiusitas) masyarakat Aceh. Arsitektur rumah berbentuk panggung dengan menggunakan kayu sebagai bahan dasarnya merupakan bentuk adaptasi masyarakat Aceh terhadap kondisi lingkungannya. Secara kolektif pula, struktur rumah tradisi yang berbentuk panggung memberikan kenyamanan tersendiri kepada penghuninya. Selain itu, struktur rumah seperti itu memberikan nilai positif terhadap sistem kawalan sosial untuk menjamin keamanan, ketertiban, dan keselamatan warga gampong (kampung). Sebagai contoh, struktur rumah berbentuk panggung membuat pandangan tidak terhalang dan memudahkan sesama warga saling menjaga rumah serta ketertiban gampong.
Kecerdasan masyarakat dalam menyikapi kondisi alam juga dapat dilihat dari bentuk Rumoh Aceh yang menghadap ke utara dan selatan sehingga rumah membujur dari timur ke barat. Walaupun dalam perkembangannya dianggap sebagai upaya masyarakat Aceh membuat garis imajiner antara rumah dan Ka‘bah (motif keagamaan), tetapi sebelum Islam masuk ke Aceh, arah rumah tradisional Aceh memang sudah demikian. Kecenderungan ini nampaknya merupakan bentuk penyikapan masyarakat Aceh terhadap arah angin yang bertiup di daerah Aceh, yaitu dari arah timur ke barat atau sebaliknya. Jika arah Rumoh Aceh menghadap ke arah angin, maka bangunan rumah tersebut akan mudah rubuh. Di samping itu, arah rumah menghadap ke utara-selatan juga dimaksudkan agar sinar matahari lebih mudah masuk ke kamar-kamar, baik yang berada di sisi timur ataupun di sisi barat. Setelah Islam masuk ke Aceh, arah Rumoh Aceh mendapatkan justifikasi keagamaan. Nilai religiusitas juga dapat dilihat pada jumlah ruang yang selalu ganjil, jumlah anak tangga yang selalu ganjil, dan keberadaan gentong air untuk membasuh kaki setiap kali hendak masuk Rumoh Aceh.
Musyawarah dengan keluarga, meminta saran kepada Teungku, dan bergotong royong dalam proses pembangunannya merupakan upaya untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan, menanamkan rasa solidaritas antar sesama, dan penghormatan kepada adat yang berlaku. Dengan bekerjasama, permasalahan dapat diatasi dan harmoni sosial dapat terus dijaga. Dengan mendapatkan petuah dari Teungku, maka rumah yang dibangun diharapkan dapat memberikan keamanan secara jasmani dan ketentraman secara rohani.
Tata ruang rumah dengan beragam jenis fungsinya merupakan simbol agar semua orang taat pada aturan. Adanya bagian ruang yang berfungsi sebagai ruang-ruang privat, seperti Rumoh Inong, ruang publik, seperti serambi depan, dan ruang khusus perempuan, seperti serambi belakang merupakan usaha untuk menanamkan dan menjaga nilai kesopanan dan etika bermasyarakat. Keberadaan tangga untuk memasuki Rumoh Aceh bukan hanya berfungsi sebagai alat untuk naik ke bangunan rumah, tetapi juga berfungsi sebagai titik batas yang hanya boleh didatangi oleh tamu yang bukan anggota keluarga atau saudara dekat. Apabila di rumah tidak ada anggota keluarga yang laki-laki, maka ”pantang dan tabu” bagi tamu yang bukan keluarga dekat (baca: muhrim) untuk naik ke rumah. Dengan demikian, reunyeun juga memiliki fungsi sebagai alat kontrol sosial dalam melakukan interaksi sehari-hari antar masyarakat.
Pintu utama rumah yang tingginya selalu lebih rendah dari ketinggian orang dewasa, sekitar 120-150 cm, sehingga setiap orang yang masuk ke Rumoh Aceh harus menunduk, mengandung pesan bahwa setiap orang yang masuk ke Rumoh Aceh, tidak peduli betapa tinggi derajat atau kedudukannya, harus menunduk sebagai tanda hormat kepada yang punya rumah. Namun, begitu masuk, kita akan merasakan ruang yang sangat lapang karena di dalam rumah tak ada perabot berupa kursi atau meja. Semua orang duduk bersila di atas lantai. Ada juga yang menganggap bahwa pintu Rumoh Aceh diibaratkan hati orang Aceh. Memang sulit untuk memasukinya, tetapi begitu kita masuk akan diterima dengan lapang dada dan hangat.
Pelaksanaan upacara baik ketika hendak mendirikan rumah, sedang mendirikan, dan setelah mendirikan rumah bukan untuk memamerkan kekayaan tetapi merupakan ungkapan saling menghormati sesama makhluk Tuhan, dan juga sebagai bentuk ungkapan syukur atas rizqi yang telah diberikan oleh Tuhan.
Dengan mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam Rumoh Aceh, maka kita akan mampu memahami dan menghargai beragam khazanah yang terkandung di dalamnya. Bisa saja, karena perubahan zaman, arsitektur Rumoh Aceh berubah, tetapi dengan memahami dan memberikan pemaknaan baru terhadap simbol-simbol yang digunakan, maka nilai-nilai yang hendak disampaikan oleh para pendahulu dapat terjaga dan tetap sesuai dengan zamannya. (AS/bdy/21/12-07). ( melayuonline.com ).

Kamis, 19 Januari 2012

Zakat Vs Pajak dalam perpekstif islam


Zakat dan pajak merupakan dua istilah yang berbeda namun keduanya memiliki fungsi yang sama yaitu mengambil atau memungut kekayaan dari masyarakat untuk kepentingan sosial. Dua istilah ini juga memiliki banyak perbedaan. Istilah zakat hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang beragama islam, karena zakat diatur didlam Al-Quran dan As-Sunnah. Sebagai mana firman Allah : 

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (At-Taubah: 60)
Dan sabda Nabi Muhammad SAW:

diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw. mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman maka beliau bersabda, “Serulah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa aku ini Rasulullah. Kalau mereka mentaatimu untuk itu maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka lima kali shalat dalam sehari dan semalam; kalau mereka mentaatimu untuk itu maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka shadaqah (zakat) berkenaan dengan harta mereka, diambil dari golongan akaya mereka dan didistribusiokan kepada oaring-orang yang faqir diantara mereeka. (HR. BUkhari).

Selain orang-orang yang disebutkan diatas tidak berhak menerima zakat. Zakat merupakan pembeda antara yang kaya dan yang miskin yang memiliki fungsi social untuk membantu sesama. Orang-orang yang berhak membayar zakat adalah orang-orang yang memilki penghasilan lebih.

Zakat dalam islam merupakan suatu ibadah yang memiliki fungsi social dan perikemanusiaan dalam hal ekonomi antara yang kaya dan yang miskin. Zakat bisa memberantas penyakit hati seperti iri hati dan dengki dari orang-orang yang miskin yang hidup disekitar orang yeng memilki harta lebih. Zakat Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang berdiri atas prinsip-prinsip persatuan, persamaan derajat, dan tanggungjawab bersama, agar kita tidak menjadi orang yang serakah. Nilai zakat setiap tuhunnya tidak pernah berubah, dari tahun ketahun tetap memiliki nilai yang sama, tidak ditambah ataupun dikurangi.

Namun ada juga yang namanya zakat fitrah yang wajib dikeluarkan oleh setiap manusia yang beragama Islam baik itu bayi yang baru lahir sekalipun, yang lahirnya sebelum shalat Ied. Zakat fitrah hanya wajib dibayar sebelum shalat Ied Idul Fitri.

Sedangkan pajak ditetapkan oleh pemerintah dalam segala aspek kehidupan masyarakat, dan pajak diwajibkan bagi setiap masyarakatnya, baik masyarakat yang berstatus ekonomi rendah maupun masyarakat yang berstatus ekonomi tinggi. Sebagian masyarakat gerah terhadapa pajak karena terlalu diatur, contohnya saja satiap kita membeli seautu produk pasti sudah termasuk dengan pajak, makan diwarung saja dikenai pajak.
Pajak merupakan kewajiban Negara yang diatur dalam undang-undang untuk kepentingan Negara seperti fasilitas umum dan kesejahteraan rakyat. Ironisnya setiap tahun persentase pajak terus meningkat dan kehidupan masyarakat semakin miskin. Belum lagi banyak fasilitas umum yang terbengkalai, fakir miskin yang setiap tahunnya semakin meningkat. Dengan kondisi demikian, wajar apabila kesadaran pajak masyarakat Indonesia sangat rendah. Indikasinya adalah tax ratio yang hanya 13,6% dari PDB, dibawah rata-rata tax ratio negara-negara Eropa dan Amerika yaitu 33%. Karena pajak merupakan sumber utama penerimaan negara (78% APBN berasal dari pajak) tak heran jika pemerintah terus-menerus melakukan usaha memperbesar perolehan pajak. Meskipun terus meningkat, usaha tersebut belum sepenuhnya berhasil. Majalah berita Pajak edisi April 2003 menunjukkan baru 2.3 juta penduduk dari 210 juta potensi yang terdaftar sebagi obyek pajak dan dapat dilihat di http://emmyhamidiyah.blogspot.com/2008/05/zakat-vs-pajak.html). Ironisnya lagi hasil pajak hanya diperuntukkan untuk pembangunan dikota saja namun jalan-jalan menuju desa terpencil saja masih ala kadarnya. Lalu kemanakah hasil pajak?

Selasa, 17 Januari 2012

Setiap orang harus bisa jadi guru

Bukan berarti menjadi guru resmi dalam sebuah sekolahan, institusi, spiritual atau tempat kursus, namun semua individu harus bisa jadi guru, agar segala perilakunya bisa diteladani orang-orang disekitarnya secara langsung maupun tidak.
 
Biasanya, dalam kehidupan ini, ketika kita semangat untuk berbuat hal yang baik dan bermanfaat dari hasil inspirasi seseorang, sewaktu-waktu orang tersebut tak sesuai perilakunya dengan apa yang ia tampilkan, jadi hanya palsu dan jika khilaf pun bukannya segera diperbaiki, malah semakin merasa dirinya benar, dengan dalih manusia itu ada salahnya, kalau sudah begini sudah pasti perasaan kecewa membumbung dari orang-orang yang meneladaninya, jadi orang yang tadinya bersemangat terhadap perbuatan yang baik yang mulai dibiasakannya jadi blur dan diragukannya.

Memang, kita berbuat hal yang baik tak harus terpatok oleh guru atau inspirator, tetapi untuk memupuk kesadaran bertingkah laku yang patut serta mengerjakan hal-hal yang baik, akan banyak faedahnya untuk ditularkan kepada orang-orang disekitar kita, agar semua orang dapat menyerap energi positif serta melihat sebuah contoh dari tindakan langsung orang-orang yang berada didekatnya.
Dalam mempersiapkan masa depan itulah, guru tidak cukup hanya mengajarkan apa yang diketahuinya karena itu bisa menjadi tidak relevan lagi pada masa mendatang,di mana peserta didik tersebut hidup. Guru yang baik akan menjelaskan sesuatu kepada muridnya sehingga paham, tetapi guru yang hebat adalah guru yang mampu memberikan inspirasi dan motivasi kepada muridnya, sehingga mampu berbuat sesuatu yang baik dengan kemampuannya sendiri.

Di sinilah pentingnya guru, sebagai sumber keteladanan dan kemampuannya dalam menumbuhkan motivasi. Sebagaimana disampaikan pada kata bijak, satu tindakan baik dari seorang murid yang berasal dari inspirasi seorang guru adalah lebih penting dari semua hafalan dan ilmu yang diperolehnya selama sekolah.

Kemampuan membentuk karakter peserta didik tidak boleh terabaikan, tetapi menjadi satu kesatuan dari tugas guru, tugas dunia pendidikan, yaitu membentuk kepribadian yang unggul dan mulia, serta mengajarkan pengetahuan dan keterampilan. Kemampuan semacam ini hanya dimiliki sedikit orang yang berbakat, berhasrat, dan berkemampuan menjadi guru. Dan itu adalah Ibu dan Bapak Guru. Berbahagialah, wahai Ibu dan Bapak Guru sekalian yang telah terpilih mengemban tugas suci kemanusiaan ini.

 

Selasa, 20 Desember 2011

Arsitektur Berang-Berang


Arsitektur merupakan salah satu komponen kebudayaan manusia seperti piramida, istana, katredal, dan masjid. Masing-masing bangunan ini merupakan pemikiran keras arsitek ahli dan kerja sama ribuan orang. Arsitek adalah bidang dimana konsep seni dan estetika yang ditanamkan Allah kepada manusia yang dapat terlihat. Tetapi tahukah anda masih banyak arsitek dialam bebas yang masih sama terampilnya dengan arsitektur alam. Salah stunya berang-berang.

            Berang-berang hidup secara bersama-sama, rumah mereka berada disalah satu sisi danau yang mereka buat. Kisah berang-berang antara pejantan dan betian yang pergi untuk membuat rumah mereka sendiri . pasangan berang-berang akan membangun rumahnya diatas sungai tapi pertama kali mereka mengerjakannya, mereka harus membendung arus laju sungai. Untuk menahan laju air mereka menggunakan metedo seperti yang digunakan oleh manusia beribu-ribu tahun yang lalu, mereka membuat bendungan.
Untuk membangun bendungan mereka harus mendapatkan bahan bangunan, yaitu dengan cara memanfaatkan alam disekitarnya. Bahan baku yang digunakan adalah cabang kayu atau balok-balok pohon. Berang-berang mulai bekerja dengan menuju hutan disekitar sungai. Pertama mereka memakan sedikit dedaunan pohon yang mereka temukan, tapi tugas mereka adalah menebang dan meneroboh pohon yang mereka temukan hingga roboh. Mereka melakukan ini dengan cara menggerogoti  batang pokok pohon.

Satu sisi yang menarik adalah bahwa mereka menggerogoti kayu sedemikian rupa sehingga ketika pekerjaan menebang berakhir batang ppohon senantiasa roboh kearah sungai. Menebang dan meneroboh batang pophon masih merupakan pekerjaan yang  paling sederhana. Selanjutnya berang-beranga memotong cabang-cabang pohon dan mulailah membangun bendungan dengan meletakkan cabang-cabang tersebut didepat lobster besar yang telah mereka buat. Peralatan yang mereka gunakan adalah cakar dan mulutnya saja. Pekerjaan ini dilakukan dengan penuh kesabaran . 2 ekor berang-berang rata-rata menebang 400 pohon pertahun. mereka memotong-motong pohon yang berada agak jauh dari daerah arus sungai pada cabangnya dan kemudian menyeret potongan tersebut ke daaaerah arus sungai.

Berang-berang selalu mengunakan gigi depan untuk menggerogoti batang atau cabang pohon, karena mereka menggunkan setiap waktu maka gigi depan bias tumpul atau rusak, tetapi rahang berang-berang sudah dibuat dengan memperhitungkan ini semuanya, gigi depan ini selalu tumbuh layaknya kuku manusia. Allah Maha Pencipta juga mencipatakan gigi mereka untuk mempermudah kerja yang mereka lakukan.

Tubuh berang-berang didesain sedemikian rupa sehingga memudahkan mereka untuk berengan diair, kakinya berselaput sehingga mudah mengayuh. Ekor belakangnya seperti dayung raksasa sehingga mereka bias berengan dengan nyaman dalam air. Berang-berang terus saja membangun DAM mereka dengan penuh semangat. Mereka begitu ahli menyusun batang-batang pohon dan cabang-cabang kecil dan memperluas bendungan sedikit demi sedikit setiap harinya. Dam sehingga menjadi semakin besar sehingga setiap harinya air dibagian depanpun semakin meninggi , setelah bekerja selama beberapa bulan danau yang besarpun terbentuk.

Tapi karena danau yang mereka bangun begitu besar mereaka harus memperkokoh bendungan dan memperbaiki kerusakannya. Mereka melakukan tugas berat ini dengan penuh kesabaran. Pemandangan yang muncul dari hasil kerja keras selama beberapa bulan sungguh menakjubkan.
Sebuah bendungan yang sesungguhnya menyerupai bendungan buatan manusia telah terbentuk. Jika damata brang-berang membuat bendungan dengan bentuk cekung, bentuk ini tidak dipilih secara kebetulan karena bentuk bendungan yang baik menahan tekanan air adalah bendungan yang berbentuk cekung faktanya bendungan pembangkit tenaga listrik yang ada sekarang juga berbentuk cekung, singkat kata berang-berang memiliki pengetahuan tentang konstruksi yang pada manusia teracapai baru-baru ada sejak beberapa abad yang lalu.

Bendungan berang–berang dibuat sebagai perlindungan terhadap predator, seperti coyotes, serigala dan beruang, dan untuk memberikan kemudahan akses ke makanan selama musim dingin. Berang–berang selalu bekerja di malam hari dan produktif pembangun, membawa lumpur dan batu dengan bagian depan dipagari dengan kayu yg dipotong dengan gigi.
Karena itu, menghancurkan sebuah bendungan beaver tanpa mengeluarkan berang–berang sulit, terutama jika bendungan hilir adalah sebuah penginapan aktif. Berang–berang dapat membangun dasar seperti bendungan dalam semalam.